Artikel Populer Aku Tahu Itu Salah Tetapi Aku Masih Selalu Melakukannya
Ada satu pengakuan yang tidak pernah benar benar ingin diucapkan oleh siapa pun meski hampir semua orang mengalaminya dalam hidup. Pengakuan itu sederhana namun menampar kejujuran kita sendiri. Aku tahu itu salah tetapi aku masih selalu melakukannya. Kalimat yang terdengar seperti gumaman patah hati yang ditahan tetapi sebenarnya adalah cermin paling jujur tentang bagaimana manusia sering menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Manusia tahu mana yang menyakitkan tetapi malah mencarinya. Tahu mana yang menghancurkan tetapi malah mendekat. Tahu sesuatu membuat hidup berantakan tetapi tetap kembali seperti seseorang yang kecanduan rasa nyaman yang menyakitkan.
Kalimat itu memuat ironi bahwa mengetahui tidak selalu berarti mampu berhenti. Bahwa kesadaran tidak selalu menghasilkan perubahan. Banyak orang percaya bahwa kesalahan adalah soal kurangnya informasi atau kurangnya pengetahuan tetapi hidup membuktikan sebaliknya. Kita tahu rokok merusak paru paru tetapi tetap dinyalakan saat stres mengintip di belakang pintu. Kita tahu tidur larut akan membuat esok hari kacau tetapi mata kita justru mencari layar ponsel untuk alasan alasan yang tidak masuk akal. Kita tahu seseorang tidak lagi baik untuk kehidupan kita tetapi tetap kembali seperti magnet yang tidak pernah benar benar bisa dipatahkan. Di titik inilah manusia menjadi makhluk paling rumit sekaligus menyedihkan. Adegan berulang yang merusak diri bukan terjadi karena bodoh melainkan karena ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar pengetahuan.
Ada pola yang selalu muncul ketika seseorang mengucapkan kalimat itu. Pola yang menunjukkan bahwa manusia sering kali tidak hidup berdasarkan logika melainkan luka. Luka adalah kompas yang paling tidak bisa dipercaya tetapi paling sering diikuti. Banyak kebiasaan buruk yang tidak berhenti bukan karena tidak tahu tetapi karena ada kebutuhan tertentu yang dipenuhi oleh kebiasaan itu. Kebutuhan yang tidak diakui. Kebutuhan yang tidak ingin dibicarakan. Kebutuhan yang lebih mudah ditutupi dengan kalimat aku tahu itu salah tetapi aku masih selalu melakukannya.
Seseorang tetap kembali kepada hubungan yang menyakitkan karena ia tidak mencari cinta. Ia mencari validasi bahwa dirinya masih layak meski dicintai setengah hati. Seseorang tetap mengulang kesalahan finansial karena ia tidak sedang mencari kestabilan. Ia mencari pelarian dari rasa takut tidak cukup. Seseorang tetap menjauhi mimpi meski tahu itu salah karena ia tidak takut gagal. Ia takut berhasil lalu tidak tahu siapa dirinya tanpa rasa takut itu. Pada akhirnya kesalahan bukan tentang apa yang dilakukan tetapi tentang apa yang ditutupi oleh tindakan itu. Kesalahan sering menjadi tempat persembunyian dari hal yang jauh lebih menakutkan. Ketika seseorang terus melakukan sesuatu yang salah ia tidak sedang melawan logika. Ia sedang melawan dirinya sendiri.
Kita hidup dalam zaman yang menuntut semua orang tampil seolah mereka kuat dan stabil. Zaman yang memaksa setiap orang menampilkan versi terbaik dirinya di media sosial bahkan ketika hidupnya sendiri tidak pernah seteratur itu. Di balik foto yang tampak bahagia ada kecemasan yang tidak pernah diucapkan. Di balik kata kata motivasi yang ditulis ada seseorang yang sedang jatuh dan memaksa dirinya bangkit karena takut dianggap lemah. Kalimat aku tahu itu salah tetapi aku masih selalu melakukannya sering kali lahir bukan dari seseorang yang bodoh melainkan seseorang yang terlalu sering menyembunyikan dirinya sendiri agar tidak tampak runtuh. Ia tahu itu salah tetapi melakukan hal yang benar berarti ia harus menghadapi kenyataan yang selama ini ia hindari.
Dalam setiap manusia ada pertempuran kecil yang tidak pernah terlihat. Pertempuran antara apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang ingin dilakukan. Pertempuran antara bagian diri yang ingin sembuh dan bagian diri yang takut kehilangan identitasnya ketika sembuh. Tidak semua orang siap dibebaskan dari luka karena luka sering menjadi bagian dari siapa dirinya. Seseorang yang selalu disakiti akan memandang kesedihan sebagai rumah. Seseorang yang tumbuh dalam kritik akan merasa asing ketika dipuji. Seseorang yang terbiasa gagal akan panik ketika diberi kesempatan berhasil. Maka kesalahan menjadi tempat aman tempat yang meski menyakitkan tetapi familiar.
Namun mengakui kesalahan bukan akhir. Justru itu awal dari sebuah percakapan panjang dengan diri sendiri percakapan yang sering dihindari banyak orang. Orang lebih memilih distraksi daripada refleksi. Lebih mudah memencet tombol beli daripada bertanya mengapa ingin membelinya. Lebih mudah menelepon mantan daripada bertanya mengapa kesepian menjadi begitu menakutkan. Lebih mudah menunda daripada bertanya mengapa takut mencoba. Kesalahan itu sendiri bukan masalah. Menghindari percakapan dengan diri sendiri itulah masalahnya.
Ada sesuatu yang sangat sunyi tetapi jujur ketika seseorang mengucapkan aku tahu itu salah tetapi aku masih selalu melakukannya. Sunyi karena itu tidak pernah mudah. Jujur karena itu mengakui betapa manusia tidak sesempurna nasihat motivasi yang bertebaran. Dan justru dari sinilah kemungkinan perubahan muncul. Perubahan tidak lahir dari paksaan tetapi dari keberanian melihat diri apa adanya. Keberanian untuk bertanya mengapa aku melakukannya. Keberanian menerima bahwa jawaban itu mungkin tidak indah. Keberanian menerima bahwa kita tidak selalu kuat. Keberanian memaafkan diri sendiri.
Inilah ironi terbesar dalam proses menjadi manusia. Kita mengira perubahan adalah soal tekad tetapi ternyata perubahan adalah soal kemampuan melihat diri sedalam mungkin bahkan ketika yang terlihat adalah hal hal yang membuat kita malu menunduk. Kita tahu itu salah tetapi kita tetap melakukannya karena ada bagian dari diri yang belum dipahami dan selama bagian itu tidak disentuh kesalahan akan selalu menemukan jalannya kembali.
Perubahan bukan tentang berhenti melakukan hal yang salah. Perubahan adalah tentang mengenali dirimu sampai ke akar yang paling gelap. Sampai kamu tahu mengapa kamu mengulang pola itu. Mengapa kamu kembali ke tempat yang menyakitkan. Mengapa kamu mengulangi tindakan yang kamu benci. Mengapa kamu mempercayai seseorang yang tidak layak dipercaya. Mengapa kamu memegang sesuatu yang harusnya dilepaskan sejak lama. Mengapa kamu bersembunyi dalam kebiasaan buruk yang merusak tubuh dan pikiranmu.
Sebab pada akhirnya manusia selalu tahu apa yang salah. Yang sulit adalah memahami mengapa kita tetap memilihnya. Dan selama alasan itu tidak disentuh kita akan terus terjebak dalam lingkaran yang sama. Lingkaran yang melelahkan. Lingkaran yang membuat seseorang melihat cermin dan bertanya mengapa aku masih seperti ini.
Tetapi ada kabar baik yang tidak sering dibicarakan. Kesadaran bahwa kita melakukan kesalahan adalah bukti bahwa diri kita belum mati. Seseorang yang sudah menyerah tidak akan mengakui. Ia bahkan tidak akan peduli. Pengakuan ini adalah tanda bahwa di balik semua kelemahan itu ada seseorang yang masih ingin berubah. Seseorang yang masih ingin sembuh. Seseorang yang masih ingin menjadi lebih baik meski jalannya lambat dan berliku. Seseorang yang tidak ingin hidupnya hanya berputar di tempat yang sama.
Kalimat aku tahu itu salah tetapi aku masih selalu melakukannya bukan akhir perjalanan. Itu adalah pintu pertama. Pintu menuju keberanian untuk melihat diri sendiri dan tidak lari dari bayangannya. Pintu untuk memahami bahwa kesalahan bukan musuh tetapi petunjuk. Pintu menuju proses panjang yang tidak selalu indah tetapi nyata. Karena pada akhirnya manusia tidak belajar dari apa yang benar. Manusia belajar dari apa yang membuatnya menunduk lalu berani berdiri kembali meski gemetar.
Dan mungkin suatu hari nanti ketika seseorang kembali mengucapkan kalimat itu ia tidak lagi mengatakannya sebagai bentuk keputusasaan. Ia mengatakannya sebagai bagian dari proses menjadi manusia yang jujur dengan dirinya sendiri. Karena ia tahu bahwa meski salah meski sulit meski sering terulang ia sedang belajar untuk tidak menyakiti dirinya dengan cara yang sama dua kali. Dan keberanian sekecil itu kadang cukup untuk memulai segalanya sekali lagi.
Penulis : Zidni Ilma_Mahasiswa Bahasa Indonesia
Editor: Rendra Elan
Komentar