Cerpen Suar yang Tidak Pernah Benar Benar Padam
Hujan turun sejak pagi, bukan hujan yang deras tetapi hujan yang seolah sedang berbicara pelan kepada tanah. Di antara suara rintiknya, kota itu tampak seperti seseorang yang menyembunyikan luka di balik senyuman tipis. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu yang redup, dan setiap pantulan tampak seperti kenangan yang dipaksa kembali ke permukaan. Di gang sempit yang jarang dilewati orang, seorang pemuda duduk di bawah atap seng sambil menatap lembar kertas yang basah separuhnya. Lembar itu berisi kalimat kalimat yang tidak pernah sempat ia kirimkan kepada siapa pun.
Pemuda itu bernama Satera, nama yang diberikan ibunya karena ia lahir pada saat perempuan itu sedang membaca kumpulan cerpen. Ibunya percaya bahwa nama bisa membentuk jalan hidup seseorang. Satera tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap kata yang ditulis seseorang memiliki nyawa, dan nyawa itu bisa menyelamatkan seseorang atau justru membunuhnya perlahan. Namun pada hari itu, ia tidak sedang menulis untuk menyelamatkan siapa pun. Ia sedang menulis agar dirinya tidak pecah oleh kenyataan yang semakin hari semakin sulit dijelaskan.
Di kota itu, suara memiliki harga. Tentu bukan harga dalam mata uang, tetapi harga dalam bentuk konsekuensi. Orang yang terlalu banyak berbicara berisiko kehilangan pekerjaan. Orang yang terlalu jujur berisiko kehilangan kebebasan. Orang yang terlalu berani berisiko kehilangan nyawanya. Satera melihat semua itu tumbuh di sekelilingnya seperti gulma yang tidak bisa dicabut. Ia melihat bagaimana temannya dipanggil diam diam oleh pihak tertentu hanya karena menulis kritik tentang pabrik yang mencemari sungai. Ia melihat bagaimana tetangganya diusir dari rumah kontrakan setelah mengunggah video tentang pejabat yang memanfaatkan bencana untuk pencitraan. Semua itu terjadi tanpa jejak, seolah kota itu punya tangan tak terlihat yang bekerja tanpa suara.
Kertas di tangan Satera sudah mulai sobek. Ia menatapnya lama, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak tahu apakah ia akan melanjutkan tulisan itu atau membiarkannya mati seperti tulisan tulisan sebelumnya. Namun yang ia tahu adalah ia harus pergi ke rumah tua di ujung kota. Rumah itu bukan rumah istimewa, tetapi menjadi tempat berkumpulnya orang orang yang masih percaya bahwa kebenaran tidak boleh menyerah hanya karena dibungkam. Di sana, mereka menulis, membaca, dan berdiskusi dalam cahaya lampu yang redup. Tidak ada yang berani menyebut tempat itu sekolah, tetapi begitulah rasanya. Sebuah sekolah untuk keberanian dan luka.
Perjalanan menuju rumah tua itu melewati pasar yang setengah sepi. Para pedagang menatap kosong karena pelanggan semakin jarang. Kota itu sedang sakit, tetapi media resmi berkata bahwa semuanya baik baik saja. Mereka berkata harga pangan stabil padahal setiap hari pedagang mengganti papan harga dengan angka lebih tinggi. Mereka berkata lapangan kerja melimpah padahal Satera baru saja melihat bagaimana ratusan orang mengantri untuk satu posisi pekerjaan ringan. Mereka berkata pembangunan berjalan namun yang dibangun hanya gedung gedung tinggi yang menjadi penanda kesenjangan.
Sesampainya di rumah tua itu, Satera mengetuk perlahan. Pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun bernama Melara. Matanya tajam, tetapi bukan tajam yang menusuk. Mata itu tajam seperti seseorang yang pernah melihat dunia runtuh di hadapannya namun tetap memilih berdiri. Melara selalu mengenakan pakaian sederhana yang tidak menarik perhatian. Di tangan kirinya ada tumpukan buku yang sebagian besar sudah kehilangan sampul. Di tangan kanannya ada gelas berisi kopi pahit.
Kau terlambat, kata Melara sambil tersenyum kecil.
Hujan, jawab Satera singkat.
Mereka masuk ke ruangan di mana beberapa orang sudah duduk. Masing masing membawa lembar tulisan yang akan dibahas. Di tempat itu mereka tidak hanya saling membaca tetapi juga saling menjaga. Mereka tahu bahwa kata bisa menjadi alasan untuk dihilangkan. Mereka tahu risiko itu, tetapi mereka juga tahu bahwa diam jauh lebih mematikan.
Diskusi malam itu dipenuhi ketegangan. Salah satu anggota kelompok baru saja mendapatkan surat panggilan dari pihak berwenang. Tidak tertulis alasan apa pun dalam surat itu. Hanya permintaan hadir. Semua orang tahu apa arti surat seperti itu. Beberapa orang mencoba menenangkan tetapi ketakutan itu tidak bisa dihapus oleh kata kata. Ketakutan itu seperti bayangan yang mengikuti mereka ke mana pun.
Melara menatap Satera lalu bertanya apakah ia membawa tulisan baru. Satera mengangguk perlahan lalu memberikan kertas lembab itu. Melara membacanya dalam diam. Wajahnya tidak menunjukkan apakah ia menyukai atau menolak isi tulisan itu. Namun ketika ia selesai membaca, ia menatap Satera lama sekali.
Apa kau yakin ingin menerbitkannya, tanya Melara dengan suara rendah.
Satera tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela yang tertutup tirai. Suara hujan terdengar samar samar. Pikirannya dipenuhi wajah wajah orang yang pernah menghilang hanya karena menulis kebenaran. Namun hatinya menolak mundur.
Ya, jawabnya lirih tetapi tegas.
Melara mengangguk pelan. Aku tidak akan menghalangi. Aku hanya ingin kau siap menghadapi akibatnya. Tulisan ini sangat tajam. Sangat berbahaya.
Satera menarik napas panjang. Bahaya sudah menjadi bagian dari hidup kita, kata laki laki itu. Bahkan ketika kita diam, bahaya tetap datang. Jadi lebih baik aku berbicara.
Malam itu mereka menyalakan lampu kecil di tengah ruangan. Mereka mulai membaca setiap tulisan dan memberi kritik. Tulisan Satera dibahas paling lama. Banyak yang terdiam setelah membacanya karena tulisan itu bukan hanya kritik tetapi juga pengakuan tentang betapa hancurnya kota yang mereka tinggali. Tulisan itu menggambarkan bagaimana suara rakyat dipaksa bungkam oleh aturan aturan yang tidak masuk akal. Bagaimana ruang publik perlahan diubah menjadi ruang pengawasan. Bagaimana kebenaran kehilangan tempat bahkan dalam lembaga yang seharusnya menjaganya.
Satera menulis bahwa keheningan bukan lagi pilihan tetapi hukuman. Ia menulis bahwa keberanian bukan lagi keistimewaan tetapi kebutuhan. Ia menulis bahwa ketika suara dimatikan, manusia kehilangan bagian paling penting dari dirinya. Tulisan itu menyayat dan menampar. Dan itu membuat semua orang di ruangan itu sadar tentang sesuatu yang selama ini mereka coba hindari. Mereka tidak lagi sekadar menulis. Mereka sedang melakukan perlawanan.
Setelah diskusi selesai, Melara meminta Satera untuk tinggal sebentar. Semua orang sudah pulang, ruangan menjadi sunyi. Hanya suara hujan yang tersisa. Melara duduk di kursi kayu dan menatap Satera dengan mata yang sulit dibaca.
Ada sesuatu yang harus kau tahu, kata Melara. Beberapa hari lalu seseorang mengikuti aku pulang. Aku tidak mengenalnya, tetapi dari caranya melihat aku tahu ia sedang mengawasi. Aku tidak ingin membuat kelompok panik, jadi aku tidak memberitahu mereka.
Satera merasa dadanya mengeras. Kenapa kau tidak bilang. Ini serius.
Melara tersenyum tipis. Karena aku tahu kita semua sudah berada di titik yang sama. Dalam bahaya yang sama. Dan aku tidak ingin membuatmu menahan tulisanmu. Tulisanmu penting. Sangat penting.
Satera mendekat dan duduk di hadapan Melara. Ia melihat keteguhan dalam diri perempuan itu dan untuk pertama kalinya ia merasa takut bukan untuk dirinya tetapi untuk seseorang yang ia kagumi diam diam.
Melara, kita bisa berhenti sejenak. Kita bisa menunggu sampai keadaan aman.
Melara menggeleng perlahan. Keadaan tidak akan pernah benar benar aman. Jika kita berhenti sekarang, tidak ada yang akan melanjutkan. Suara hanya hidup jika ada yang menjaga. Dan kita adalah penjaga itu.
Kata kata itu membuat ruangan terasa semakin berat. Namun ada cahaya kecil yang tumbuh di dada Satera. Cahaya keberanian yang lahir dari kesadaran bahwa mereka tidak sendirian.
Malam semakin larut. Hujan mereda. Satera dan Melara berjalan keluar dari rumah tua itu. Kota tampak sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran kota yang biasanya sibuk. Satera menatap langit dan merasa seolah bintang bintang sedang bersembunyi dari sesuatu yang menakutkan. Mereka berjalan berdampingan tanpa berbicara. Tidak ada yang perlu diucapkan karena keduanya tahu apa yang akan terjadi. Mereka tahu setiap langkah membawa risiko. Tetapi mereka juga tahu bahwa langkah mereka akan menyalakan sesuatu yang lebih besar dari ketakutan.
Di ujung jalan Melara berhenti dan menatap Satera. Suaranya pelan tetapi jelas.
Jika sesuatu terjadi padaku, lanjutkan tulisan itu. Jangan biarkan dunia lupa bahwa kota ini pernah mencoba membungkam kita.
Satera ingin menjawab tetapi suaranya hilang. Ia hanya mengangguk dengan mata yang mulai panas.
Ketika mereka berpisah, Satera berjalan pulang dengan langkah berat. Namun di dalam hatinya tidak ada keraguan. Malam itu ia tidak tidur. Ia menyalakan lampu kecil di kamarnya dan mulai menulis lagi. Kata kata itu mengalir seperti sungai yang menabrak batu. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia menulis tentang kehidupan yang terasa seperti jebakan. Ia menulis tentang keberanian kecil yang sering diabaikan. Ia menulis tentang suara suara yang pernah hidup dan suara suara yang dipaksa mati.
Dan ia menulis tentang Melara.
Ketika fajar tiba, Satera melihat naskahnya telah usai. Untuk pertama kalinya ia merasa telah mengatakan semua hal yang harus ia katakan. Ia merasa lega dan takut pada saat yang sama. Namun ketika ia membuka jendela dan melihat sinar matahari menembus awan tipis, ia tahu bahwa ketakutan itu adalah tanda bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang benar.
Beberapa jam kemudian kabar itu datang. Melara menghilang. Tidak ada yang tahu apakah ia ditangkap atau dipaksa menghilang. Kota itu kembali melakukan apa yang selalu dilakukannya menyembunyikan kebenaran dengan rapi. Tetapi kali ini sesuatu berbeda. Tulisan tulisan mulai menyebar. Orang orang mulai membicarakan nama yang tidak boleh disebut. Mereka mulai membaca kata kata yang ditinggalkan Melara dan Satera. Mereka mulai bertanya. Mereka mulai marah. Mereka mulai berani.
Kota itu perlahan dipenuhi suara yang tidak bisa lagi dihentikan. Suara yang lahir dari luka dan cinta. Suara yang tumbuh karena seseorang seperti Melara tidak pernah menyerah menjaga kebenaran. Dan Satera berdiri di tengah semuanya dengan naskah di tangannya, naskah yang kini menjadi obor kecil yang menerangi jalan panjang menuju hari yang lebih jujur.
Di akhir cerita ini, satu hal menjadi jelas. Suara mungkin bisa dipatahkan tetapi tidak bisa dimatikan selamanya. Selama masih ada seseorang yang berani menulis, berani membaca, berani menyuarakan kembali apa yang ingin dibungkam, maka suara itu akan terus hidup. Dan di kota itu, suara yang lahir dari keberanian seseorang mulai mengguncang tembok tembok yang selama ini berdiri terlalu lama.
Suaranya tidak pernah benar benar padam.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar