Kebodohan Publik Menjadi Mata Uang Baru Kekuasaan


Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada korupsi politik. Lebih mematikan daripada intoleransi yang tumbuh di sudut sudut masyarakat. Lebih menghancurkan daripada hoaks yang setiap hari berseliweran di layar gawai. Sesuatu itu adalah kebodohan publik yang dipelihara dengan sengaja. Sebuah kondisi ketika masyarakat dibiasakan menerima informasi tanpa pertanyaan. Ketika logika diganti oleh sensasi. Ketika orang lebih percaya pada kalimat yang berapi api daripada argumen yang berlapis bukti. Kebodohan semacam ini bukan terjadi secara alami. Ia dibentuk. Ia dirawat. Ia dijadikan alat.

Kita hidup pada masa ketika kesalahan paling dasar dalam berpikir bisa menjelma menjadi opini arus utama hanya karena diulang oleh banyak orang. Kita melihat masyarakat terbelah oleh isu isu yang seharusnya sederhana. Kita menyaksikan orang saling mencaci hanya karena perbedaan kecil yang seharusnya dapat didiskusikan. Penyebabnya tidak lain adalah cara kerja ruang publik kita yang menjadikan kebisingan sebagai ukuran kebenaran. Ketika seseorang berbicara dengan nada tinggi masyarakat menganggapnya tulus. Ketika seseorang berbicara panjang lebar masyarakat menganggapnya pintar. Padahal keduanya tidak menjamin apapun. Namun ruang publik kita terlanjur diatur oleh logika semacam itu. Kekuasaan melihat peluang dalam kondisi ini. Ketika masyarakat mudah tersulut. Ketika mereka lebih suka hal instan daripada penjelasan panjang. Ketika mereka lebih percaya pada simbol daripada substansi. Di situ kekuasaan menemukan cara termudah untuk mempertahankan diri. Cukup berikan masyarakat tontonan. Cukup lemparkan isu yang memecah konsentrasi. Cukup sediakan musuh palsu agar publik sibuk marah pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan masalah sebenarnya. Dengan begitu penguasa bisa bekerja di balik bayang bayang tanpa banyak interupsi publik.

Setiap kali muncul skandal besar kita dapat menebaknya. Akan ada isu lain yang tiba tiba meledak. Akan ada perdebatan moral yang digoreng habis habisan. Akan ada polemik baru yang membuat masyarakat lupa bahwa ada masalah jauh lebih serius. Polanya berulang dan publik hampir selalu terpancing. Ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak punya pertahanan intelektual yang kuat. Mereka mudah diarahkan. Mereka mudah dipusingkan. Mereka mudah diseret pada emosi yang sengaja ditaburkan agar logika berhenti bekerja. Di tengah kondisi seperti itu para pemegang kuasa tidak perlu lagi memberikan kinerja terbaik. Mereka hanya perlu mengelola persepsi. Sebab publik menilai bukan dari hasil melainkan dari tampilan. Akibatnya kita menemukan begitu banyak pejabat yang sibuk memoles citra. Mereka berkeliling menghadiri acara seremonial yang tidak menghasilkan perubahan apapun. Mereka memproduksi video video dramatis yang memperlihatkan seolah mereka bekerja sepanjang waktu. Masyarakat menontonnya dengan kagum. Mereka mengira aksi kamera adalah bukti nyata. Padahal semua itu hanya teknik komunikasi yang dirancang untuk menutupi kosongnya substansi.

Kritik pun sulit bekerja dalam atmosfer seperti ini. Bukan karena kritik lemah tetapi karena publik tidak lagi mampu menerima kritik dengan kepala dingin. Setiap kritik dianggap serangan pribadi. Setiap analisis dianggap gangguan terhadap kenyamanan mayoritas. Padahal kritik lahir dari usaha melihat persoalan secara jernih. Tetapi masyarakat yang terbiasa hidup dalam budaya sensasional memerlukan musuh, bukan penjelasan. Mereka membutuhkan kambing hitam, bukan analisis mendalam. Kritik akhirnya dianggap tidak relevan karena tidak menawarkan drama. Padahal justru di situlah letak nilainya. Masyarakat yang kehilangan kemampuan berpikir kritis akan mudah dikendalikan oleh siapa saja yang menguasai narasi. Dan narasi hari ini tidak ditentukan oleh kualitas gagasan. Ia ditentukan oleh siapa yang paling cepat menguasai gelombang emosi publik. Kita melihat bagaimana tokoh tokoh tertentu memanfaatkan emosi publik dengan sangat efektif. Mereka berbicara dengan gaya yang menggugah. Mereka memanfaatkan kemarahan massa. Mereka membangun citra sebagai penyelamat. Padahal jauh di dalamnya tidak ada gagasan yang kokoh. Namun masyarakat tidak peduli selama mereka merasa diberi pelampiasan terhadap ketidakpuasan yang tidak pernah mereka pahami akar masalahnya.

Situasi ini tampak jelas dalam banyak peristiwa. Ketika ada pembangunan yang jelas merusak lingkungan masyarakat tidak mempertanyakan hitungan dampak. Mereka hanya memercayai klaim pemerintah bahwa pembangunan membawa kemajuan. Ketika ada kebijakan pendidikan yang jelas mengasingkan siswa dari kemampuan berpikir dalam. Masyarakat justru mendukungnya karena terlihat modern. Ketika harga kebutuhan pokok melonjak masyarakat tidak menuntut reformasi ekonomi. Mereka sibuk memaki pihak lain yang dijadikan kambing hitam. Semua ini menunjukkan bahwa publik telah dikondisikan untuk tidak melihat struktur. Mereka dibiasakan melihat musuh imajiner. Fenomena semacam ini tidak hanya merusak demokrasi tetapi juga merusak masa depan. Demokrasi hanya dapat bertahan jika publik cerdas. Jika publik berani bertanya. Jika publik tidak mudah disuapi narasi dangkal. Namun ketika kebodohan publik menjadi norma maka demokrasi berubah menjadi sekadar panggung. Pemilu berubah menjadi kontes popularitas. Kebijakan publik berubah menjadi alat untuk memuaskan kelompok tertentu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi kebodohan ini membuat generasi muda tumbuh dengan anggapan bahwa percakapan kritis adalah ancaman.

Kita perlu bertanya mengapa masyarakat menerima begitu saja kebisingan sebagai kebenaran. Salah satunya karena sistem pendidikan kita terlalu sibuk mengajarkan hafalan. Siswa diajak mengingat banyak hal tetapi tidak diajak mempertanyakan. Mereka diminta menjawab tetapi tidak pernah diajari meragukan. Akibatnya ketika mereka tumbuh dewasa mereka tidak memiliki alat untuk menilai informasi. Mereka hanya mengenali pola pola suara yang paling meyakinkan tanpa dapat memeriksa validitasnya. Ini adalah akar kerusakan ruang publik yang jarang dibicarakan. Media massa pun tidak luput dari tanggung jawab. Banyak media memilih mengejar klik. Mereka memproduksi judul judul yang memancing emosi. Laporan yang dangkal disajikan seolah mendalam. Analisis digantikan oleh opini editorial yang dibungkus seolah fakta. Media akhirnya kehilangan fungsi sebagai penjaga informasi yang akurat. Mereka justru ikut mempertebal kebingungan publik. Dalam ekosistem seperti ini orang yang ingin tahu kebenaran harus bekerja ekstra keras. Namun sebagian besar orang tidak punya waktu untuk itu. Mereka akhirnya mengambil apa pun yang paling mudah diserap walaupun salah.

Kita sampai pada titik ketika kerumitan dianggap ancaman. Ketika seseorang mencoba menjelaskan konteks publik langsung merasa terganggu. Mereka lebih menyukai kesimpulan instan bahkan jika kesimpulan itu salah. Kerumitan dianggap elitisme. Padahal memahami kerumitan adalah syarat dasar bagi masyarakat modern. Tidak ada masalah besar yang dapat dijelaskan dalam dua kalimat. Tidak ada kebijakan publik yang bisa dinilai tanpa mempertimbangkan banyak faktor. Namun kesabaran intelektual telah hilang. Publik ingin jawaban cepat untuk persoalan yang butuh pemahaman panjang. Jika situasi ini dibiarkan masyarakat akan terus terseret dalam pusaran kebodohan yang dikelola oleh mereka yang menikmati kekuasaan tanpa pengawasan. Inilah bentuk baru dari dominasi. Tidak lagi menggunakan kekuatan fisik. Tidak lagi menggunakan ancaman langsung. Mereka cukup mengatur arus informasi. Cukup menjaga masyarakat tetap bingung. Cukup memastikan publik sibuk bertengkar tentang hal yang tidak penting sehingga masalah yang benar benar menentukan hidup mereka dapat dijalankan tanpa perlawanan.

Satu satunya jalan keluar dari kondisi ini adalah membangun keberanian intelektual pada tingkat individu. Publik harus mulai belajar melihat melampaui permukaan. Mereka harus berani mempertanyakan narasi yang terus diulang. Mereka harus menghargai kerumitan. Mereka harus membiasakan diri membaca dengan teliti. Mereka harus menyadari bahwa kemarahan yang datang terlalu cepat biasanya berasal dari manipulasi. Mereka harus menghargai suara yang perlahan namun berbobot. Dan mereka harus mengakui bahwa tidak semua yang viral adalah penting. Opini tajam bukan sekadar kritik. Ia adalah usaha mengembalikan kesadaran masyarakat. Ia mengajak kita berpikir lebih jauh daripada apa yang ingin kita percayai. Ia menantang kenyamanan kita. Dan kenyamanan itulah yang sering kali membuat ruang publik membusuk. Di saat publik merasa nyaman dengan kebisingan penguasa dapat bekerja tanpa hambatan. Di saat publik merasa nyaman dengan simplifikasi mereka tidak menyadari bahwa hidup mereka sedang diarahkan menuju kebodohan kolektif.

Kita memerlukan masyarakat yang berani membongkar pola pola manipulasi ini. Masyarakat yang menolak dikendalikan oleh suara nyaring. Masyarakat yang menolak memercayai citra tanpa memeriksa kenyataan. Masyarakat yang tidak mudah diprovokasi. Masyarakat yang berani mengatakan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mempercayainya tetapi oleh kekuatan argumen yang mendukungnya. Selama kebodohan publik masih menjadi alat kekuasaan selama itu pula demokrasi hanya akan menjadi panggung besar tanpa inti. Dan selama masyarakat tidak menyadari bahwa mereka sedang diarahkan maka keberanian berpikir tidak akan pernah tumbuh. Namun begitu keberanian itu muncul ruang publik akan berubah menjadi tempat yang layak bagi gagasan. Tempat yang layak bagi perdebatan sehat. Tempat yang layak bagi masyarakat yang ingin masa depan lebih baik daripada hari ini.

Itulah tujuan opini tajam. Bukan untuk menambah kebisingan tetapi untuk merobeknya. Agar masyarakat melihat apa yang selama ini berusaha disembunyikan oleh suara yang paling nyaring. Agar ruang publik kembali menjadi milik mereka yang mau berpikir bukan mereka yang paling pandai menjual kebodohan.

Komentar

Postingan Populer