Kumpulan Puisi Sebelum Aku Pulih

 


Di Antara Kita Ada Yang Retak dan Tidak Ada Obatnya

Di hadapan malam yang menggigil aku berdiri
membawa namamu yang sudah lama tidak kamu akui
seperti batu yang terikat di dada
tak bisa kulepas
tak bisa kutinggalkan
hanya bisa kurasakan beratnya yang makin hari makin menyiksa

Aku pernah menjadi rumah bagimu
tempat kau pulang ketika dunia menolakmu
namun pada suatu pagi yang tanpa aba aba
kau menjelma angin yang menyambar lalu pergi
meninggalkan pintu yang masih terbuka
dan aku yang masih berdiri di ambang
bertanya tanya
apakah ada yang kurang dari doaku
atau apakah cinta memang seganas itu
datang semaunya lalu hilang tanpa jejak

Malam malam setelah kepergianmu
aku berbicara kepada cermin
bertanya kenapa wajahku tampak seperti luka yang belum kering
kenapa mataku selalu basah seperti ingin pecah
kenapa suaraku menjadi asing
seakan ada seseorang lain yang mengambilnya
dan menyembunyikannya di tempat yang tidak mungkin kutemukan lagi

Aku berjalan dalam hidup seperti bayangan
tanpa tujuan
tanpa arah
setiap langkah terdengar seperti denting benda patah
setiap napas adalah peringatan bahwa aku masih hidup
meski bagian dalamku sudah lama rubuh
seperti bangunan tua yang tak punya kekuatan untuk berdiri melawan waktu

Kini aku mengerti
bahwa tidak semua kehilangan bisa dijelaskan
dan tidak semua cinta terlahir untuk bertahan
beberapa hanya datang untuk mengajari kita
bahwa hati bisa runtuh dalam sekejap
bahwa manusia bisa menukar kesetiaan dengan rasa bosan
bahwa luka bisa tumbuh dari orang yang paling kita percaya

Namun meski begitu
meski dunia menutup pintunya padaku
meski hatiku berserakan seperti pecahan kaca di lantai
aku tetap berdiri
mencoba merapikan diriku sendiri
karena pada akhirnya
tidak ada yang akan menolongku
kecuali keberanian kecil yang tersisa di sudut tubuhku
keberanian yang berbisik lirih
kamu belum selesai
meski kamu hampir menyerah

Dan malam ini
dengan suara yang gemetar
aku mengembalikan namamu kepada angin
biarlah ia membawanya sejauh mungkin
ke tempat aku tidak lagi bisa mendengarnya
ke tempat di mana kenangan berhenti menggigit
ke tempat di mana hatiku bisa tumbuh dari awal

Jika suatu hari kau mengetuk pintuku
kau hanya akan menemukan ruang kosong
dan kursi yang sudah lama kutinggalkan
karena aku tidak lagi menunggu
aku hanya sedang belajar
menjadi seseorang yang utuh tanpa harus memanggil namamu

Sebab aku tahu sekarang
bahwa yang retak antara kita
tidak akan pernah kembali utuh
dan tidak semua yang indah harus diperjuangkan sampai hancur
kadang kepergian adalah satu satunya cara
untuk menyelamatkan diri dari cinta yang berubah menjadi pisau.



Perpisahan yang Tidak Selesai

Ada jarak yang tidak pernah kita ukur
tetapi selalu kita rasakan
seperti garis tipis yang memisahkan dua tangan
yang pernah saling menggenggam terlalu erat
hingga menyisakan bekas yang bahkan waktu tidak bisa menghapus

Aku masih mengingat hari ketika kau pergi
bukan dengan pintu yang dibanting
atau kata kata yang memecahkan langit
melainkan dengan keheningan
yang lebih kejam dari perpisahan apa pun
sebab diam adalah cara termurni untuk meninggalkan
tanpa memberi kesempatan untuk mengerti

Sejak saat itu
aku hidup dengan pertanyaan yang tidak selesai
mengendap seperti ampas kopi
di dasar cangkir yang tak pernah kucuci
menunggu seseorang mengaduknya
agar pahitnya kembali terasa

Aku tidak membencimu
tidak juga mencintaimu sepenuhnya
aku hanya terjebak di antara dua musim
yang tidak pernah berganti
musim menunggu dan musim merelakan
keduanya saling bertabrakan
seperti dua gelombang yang lupa
ke mana mereka seharusnya kembali

Perpisahan kita tidak pernah memiliki kalimat penutup
tidak memiliki alasan
tidak memiliki tubuh yang dikuburkan
atau kenangan yang bisa dilepaskan
yang ada hanya jejak langkah samar
yang terus berputar di kepalaku
setiap kali malam mengajakku bicara

Jika suatu hari kau kembali
aku tidak tahu apakah harus tersenyum
atau menutup pintu pelan pelan
agar kenangan tidak berlarian keluar
seperti anak anak liar yang terlalu lama dikurung
di ruang bernama hati

Sebab aku telah belajar
bahwa tidak semua yang pergi pantas dipanggil pulang
dan tidak semua perpisahan butuh maaf
beberapa cukup dibiarkan terbuka
menjadi luka yang perlahan terbiasa
menjadi bagian dari siapa diriku hari ini

Namun tetap saja
setiap kali aku menutup mata
aku mendengar langkahmu
bukan datang
bukan pergi
hanya bergerak di antara keduanya
mengingatkanku bahwa kita pernah hampir menjadi sesuatu
tetapi tidak pernah cukup berani
untuk menyelesaikannya.



 Cinta yang Menghancurkan Identitas Diri

Aku pernah mencintaimu sampai kehilangan diriku sendiri
seperti rumah yang kubakar perlahan
hanya untuk membuatmu merasa hangat
padahal aku sendiri yang akhirnya menjadi abu
dan tidak ada yang tersisa dariku selain serpihan
yang tidak lagi mengenal asalnya

Kau datang dengan tatapan yang membuatku percaya
bahwa mencintaimu adalah cara untuk diselamatkan
padahal aku sedang berjalan menuju jurang
dengan langkah langkah yang kupaksakan agar tampak bahagia
seakan aku sedang menari
padahal aku sedang jatuh tanpa suara

Aku mulai berubah
bukan karena ingin
tetapi karena takut kehilanganmu
hingga aku menghapus bagian bagian dari diriku
yang pernah kubanggakan
aku mengecilkan mimpi
menyembunyikan suara
dan memeluk luka yang bukan milikku
semata untuk membuatmu merasa cukup

Aku menjadi bayang bayang
yang mengikuti kehendakmu
bahkan ketika cahaya tidak lagi memihakku
aku tetap berdiri di belakangmu
menunggu sisa ruang agar aku bisa ikut bernapas
meski hanya sebentar
meski hanya sebagai seseorang yang kau biarkan ada

Cinta ini tidak tumbuh
ia memakan
ia menggigit
ia menelan perlahan
membuatku kehabisan nama
kehabisan alasan
kehabisan diriku sendiri
hingga aku hanya mampu mencintaimu
dengan tubuh yang semakin ringan
karena yang berat sudah kau ambil sejak lama

Pada akhirnya
aku bukan lagi aku
aku adalah versi yang kubentuk
dari segala kekhawatiranmu
dari segala tuntutanmu
dari segala ketakutanmu ditinggalkan
aku menjadi seseorang
yang bahkan cermin pun menolakku
karena ia tahu aku bukan lagi manusia
melainkan bayangan yang dipaksa hidup

Kini setelah semua runtuh
setelah cintamu berubah menjadi ruang kosong
yang tak mau lagi kutinggali
aku mencoba mencari kembali diriku
di antara baju baju lama
di antara buku buku yang pernah kubaca
di antara mimpi yang pernah membuatku berani
dan aku terkejut
karena aku tidak menemukan siapa siapa

Aku sadar akhirnya
bahwa mencintaimu adalah cara paling halus
untuk menghancurkan diriku sendiri
dan aku terlalu telat
untuk menyadari bahwa yang paling berbahaya
bukanlah seseorang yang membenciku
tetapi seseorang yang kucintai
lebih dari aku mencintai diriku sendiri

Namun hari ini
meski suaraku masih gemetar
meski napasku masih pelan
aku mulai menyebut namaku kembali
perlahan
tanpa terburu buru
seperti seseorang yang baru dilahirkan
ke dunia yang lebih jujur

Dan mungkin
di antara serpihan yang tersisa
aku akan menemukan diriku lagi
bukan untuk mencintaimu
melainkan untuk mencintai
apa yang dulu sempat hilang
karena aku lupa
bahwa aku pantas ada
tanpa harus dipinjamkan
oleh cinta yang hampir menghancurkanku.



Trauma Masa Lalu yang Menumpuk dalam Sunyi

Ada malam malam ketika aku merasa tubuhku bukan milikku
seolah ingatan lama masih menggenggamku
dengan jemari yang tidak terlihat
tetapi tetap meninggalkan bekas
bekas yang tidak menghilang
meski waktu berjalan
meski aku berpura pura baik baik saja
di hadapan dunia yang tidak pernah benar benar peduli

Trauma itu tidak datang sebagai teriakan
ia datang sebagai bisikan
menyelinap di antara detak jantung
mengisi celah yang seharusnya tenang
lalu tumbuh pelan
menjadi ketakutan yang bentuknya tidak bisa dijelaskan
ketakutan yang tidak memerlukan alasan
untuk membuatku membeku
meski di sekitarku tidak ada ancaman apa pun

Aku membawa masa lalu
seperti koper yang tidak pernah kubuka
bukan karena aku tidak ingin
tetapi karena aku tidak sanggup melihat
apa yang masih tersisa di dalamnya
apakah kenangan
apakah luka
atau aku sendiri yang terperangkap
di masa yang seharusnya sudah jauh kutinggalkan

Ada bagian dari diriku
yang tidak pernah tumbuh bersama usiaku
bagian yang terhenti di sebuah hari
ketika semuanya berubah
ketika rasa aman yang kukenal hilang
ketika dunia yang kukira lembut
tiba tiba menunjukkan taringnya
dan aku belajar
bahwa tidak semua yang kita cintai
akan menjaga kita

Sejak itu
aku belajar diam
diam bukan karena kuat
tetapi karena takut suara kecilku
akan memanggil kembali bayangan
yang kubuang dengan susah payah
aku menutup pintu
mengunci jendela
menjaga agar dunia tidak melihat
betapa rapuhnya diriku
meski dari luar aku tampak seperti seseorang
yang mampu menahan badai

Namun trauma tidak pernah benar benar tidur
ia hanya menunggu
di sudut gelap tubuhku
menghitung napas yang gemetar
mengamati langkah yang goyah
lalu muncul lagi
ketika aku mulai percaya
bahwa aku sudah sembuh
bahwa aku sudah menjadi manusia baru
yang tidak lagi dikejar masa lalu

Aku ingin berbicara
tetapi kata kata adalah labirin
setiap huruf membawa aku kembali
ke lorong yang ingin kulupakan
ke suara suara yang masih menempel
di dinding kepalaku
seperti cap tangan yang menolak hilang
meski sudah berkali kali kubasuh dengan air mata

Namun hari ini
meski pelan
meski sulit
aku mencoba menyampaikan sesuatu
kepada diriku sendiri
bahwa aku tidak harus terus bersembunyi
bahwa masa lalu yang menyakitkan
tidak akan hilang
tetapi bisa diajak berdamai
meski damainya tidak sempurna
meski perjalanannya tidak lurus

Aku belajar memeluk diriku
yang dulu ketakutan
yang dulu tidak percaya
bahwa ia pantas selamat
aku merangkulnya
seperti seseorang yang menemukan bagian tubuhnya
yang lama hilang
karena aku tahu
aku tidak akan pernah pulih
jika terus menganggap luka itu
sebagai sesuatu yang harus dibuang
bukan sesuatu yang perlu dipahami

Dan pada akhirnya
aku mengerti
bahwa trauma bukan penjara
trauma adalah peta
yang mengingatkan dari mana aku pernah tersesat
dan ke mana aku seharusnya melangkah
agar aku tidak kembali ke tempat
yang pernah merenggut suaraku

Meski sunyi masih menjadi rumahnya
meski aku masih gemetar
setiap kali ingatan mengetuk
aku tetap melangkah
pelan
pasti
membawa seluruh diriku
yang retak
yang takut
yang mencoba hidup
sekali lagi.



Pengkhianatan dari Orang yang Paling Dipercaya

Aku pernah percaya padamu
lebih dari aku percaya pada diriku sendiri
aku menaruh seluruh hidupku di tanganmu
seperti seseorang yang menitipkan nyawanya
agar tidak jatuh ke tanah dan pecah
dan aku benar benar yakin
kau akan menjaganya
setidaknya seperti aku menjagamu
dengan mata yang selalu waspada
dan hati yang tidak pernah tidur

Namun yang paling menusuk
bukanlah perginya seseorang
melainkan cara ia pergi
dengan tenang
dengan rapi
seakan kesetiaan hanyalah furnitur
yang bisa dipindahkan kapan saja
tanpa suara
tanpa rasa bersalah
tanpa menoleh untuk melihat
apa yang hancur di belakangnya

Aku tidak pernah membayangkan
bahwa orang yang paling kutunggu
akan menjadi orang yang paling kutakuti
bahwa genggamannya
yang dulu terasa seperti rumah
akan berubah menjadi pisau
yang memotong kepercayaanku perlahan
dengan ketelitian yang hanya dimiliki
oleh seseorang yang pernah kucintai terlalu dalam

Pengkhianatanmu tidak datang sebagai badai
ia datang sebagai angin kecil
yang pada awalnya tidak kuhiraukan
namun lama lama membuat dindingku retak
membuat fondasiku goyang
membuat keyakinanku rapuh
hingga pada akhirnya
seluruh diriku roboh tanpa suara

Yang paling menyakitkan
bukan apa yang kau lakukan
tetapi bagaimana aku tidak melihatnya datang
padahal tanda tandanya begitu jelas
namun aku memilih percaya
karena aku ingin mencintaimu
tanpa curiga
tanpa takut
tanpa syarat apa pun
dan cinta seperti itu
justru membuatku buta

Kini setiap kali aku menutup mata
aku melihat punggungmu
punggung seseorang
yang pernah kuharap akan menjadi rumah terakhir
namun malah menjadi alasan
mengapa aku sulit percaya pada siapa pun
termasuk diriku sendiri

Aku meraba hatiku
dan mendapati belasan lubang
yang tidak kuketahui kapan dibuat
mungkin saat kau tersenyum
mungkin saat kau berjanji
mungkin saat kau memelukku
dengan dua tangan
yang diam diam menyiapkan kepergian

Namun meski begitu
di antara semua runtuhan
di antara seluruh rasa yang tergores
aku menemukan sesuatu
yang tidak berhasil kau hancurkan
sebuah bagian kecil dari diriku
yang menolak mati
yang menolak tunduk
yang menolak menjadi pahit

Bagian itu berbisik
bahwa pengkhianatanmu
bukan akhir dariku
bahwa aku bisa tumbuh lagi
meski lambat
meski sakit
meski harus mengumpulkan serpihan
yang jatuh di lantai kepercayaanku sendiri

Dan hari ini
meski suaraku masih diguncang
oleh sisa sisa luka
aku berterima kasih pada diriku
bukan pada dirimu
karena aku akhirnya berani memahami
bahwa seseorang yang mampu menusuk sedalam itu
adalah seseorang yang tidak pernah layak
untuk aku jaga sedalam itu

Pengkhianatanmu telah selesai
tetapi aku masih hidup
dan itu lebih dari cukup
untuk membuktikan
bahwa kepercayaanku
akan kutanam kembali
di tanah yang tidak lagi menyebut namamu.

Komentar

Postingan Populer