Demokrasi Menjelma Panggung Hiburan dan Warga Hanya Jadi Penonton yang Tidak Dibayar
Fenomena ini bukan lagi gejala kecil melainkan penyakit besar yang merasuki sendi kehidupan bernegara. Sistem yang seharusnya dijalankan dengan akal sehat kini berubah menjadi pertunjukan yang lebih mengutamakan drama daripada substansi. Televisi dipenuhi debat yang berisik tanpa isi. Media sosial dikuasai para buzzer yang bekerja seperti pasukan bayaran untuk menciptakan opini palsu demi menutupi kegagalan para penguasa. Demokrasi yang semestinya lahir dari akal sehat berubah menjadi arena adu kuat uang dan jaringan. Kita dipaksa percaya bahwa inilah wajah negara modern padahal yang kita lihat sebenarnya hanyalah panggung sandiwara besar yang sangat mahal dan menggunakan dana publik pula.
Yang lebih menyakitkan adalah bagaimana rakyat sering diperlakukan sebagai objek yang harus digerakkan bukan sebagai subjek yang mestinya dilibatkan. Rakyat hanya penting ketika harus dikumpulkan untuk kampanye atau ketika harus disuapi iming iming agar bersedia mengangkat seseorang ke kursi kekuasaan. Setelah itu suara rakyat dianggap bising. Kritik rakyat dianggap ancaman. Tuntutan rakyat dianggap gangguan bagi stabilitas yang mereka bangun sendiri. Sementara itu stabilitas yang dibanggakan itu justru tercipta dari pembungkaman. Tidak ada yang benar benar stabil dalam negara yang takut pada suara warganya sendiri.
Jika kita menengok ke lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya warga kritis kita juga menemukan ironi serupa. Pendidikan politik tidak pernah benar benar diajarkan. Pengetahuan tentang hak warga negara hanya muncul sebagai teori kering yang dihafal tetapi tidak pernah dipraktikkan. Siswa diajarkan untuk patuh dan mengikuti perintah bukan untuk mempertanyakan. Akhirnya kita menghasilkan generasi yang pintar mengikuti sistem tetapi tidak mahir memahami bahwa sistem itu bisa dan harus dikritisi. Generasi muda dibiarkan tumbuh dengan ilusi bahwa politik adalah urusan orang yang berada di gedung tinggi sementara mereka hanya perlu menonton dari kejauhan. Padahal demokrasi hanya hidup ketika warganya ikut menggerakkan.
Media massa pun tidak lagi menjadi penjaga kebenaran. Banyak media lebih sibuk menjaga hubungan dengan penguasa atau pemilik modal daripada menjaga integritas pemberitaan. Berita bukan lagi informasi yang diperjuangkan tetapi produk yang dijual kepada pasar. Yang laku adalah yang sensasional bukan yang mendidik. Yang diprioritaskan adalah jumlah klik bukan kualitas analisis. Ketika informasi kehilangan integritasnya publik kehilangan pegangan untuk dapat menentukan sikap secara rasional. Dan ketika publik kehilangan pegangan demokrasi kehilangan jantungnya sendiri.
Dalam situasi seperti ini muncul pertanyaan penting yang harus kita ajukan. Apakah demokrasi masih hidup atau hanya menjadi bangkai yang terus dihias agar tampak bernafas. Jawaban jujur mungkin menyakitkan tetapi perlu diucapkan bahwa kita sedang menjalankan demokrasi yang hanya hidup di kulit tetapi mati di dalam. Kita punya pemilu tetapi tidak punya jaminan bahwa suara benar benar terhitung. Kita punya kebebasan berekspresi tetapi dibatasi oleh pasal karet dan kepentingan politik. Kita punya lembaga lembaga demokratis tetapi sebagian telah menjelma alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya intoleransi terhadap perbedaan pendapat. Kritik sering dianggap sebagai permusuhan. Ketidaksepakatan dianggap sebagai tindakan anti negara. Masyarakat mulai terbiasa hidup dalam gelembung informasi yang membuat mereka percaya hanya pada narasi yang ingin mereka yakini. Pola ini berbahaya karena demokrasi hanya mungkin hidup jika perbedaan dilihat sebagai kekayaan bukan ancaman. Ketika kita tidak lagi mampu menerima gagasan yang bertentangan demokrasi perlahan berubah menjadi monolog panjang yang diucapkan oleh segelintir elite kepada rakyat yang tidak punya kesempatan untuk membalas.
Di tengah semua itu kita tidak boleh lupa melihat bagaimana kebijakan publik sering lahir bukan dari kebutuhan mendesak warga tetapi dari kepentingan politik yang disamarkan sebagai kebutuhan rakyat. Banyak kebijakan besar yang diciptakan tanpa mendengar suara yang terdampak. Rakyat hanya diberi hasil dan diminta menerima tanpa bertanya. Ketika menolak malah dituduh tidak memahami pembangunan. Padahal pembangunan tanpa partisipasi adalah kekerasan yang dibungkus dengan nama kemajuan. Negara menjadi aktor tunggal yang menentukan masa depan warga sementara warga hanya menjadi angka statistik yang mudah dipindahkan sesuka hati.
Krisis demokrasi ini semakin tampak ketika ruang publik yang seharusnya menjadi wadah diskusi berubah menjadi tempat penuh kecurigaan. Orang takut berbicara karena takut dijadikan sasaran serangan. Orang enggan mengkritik karena tidak punya perlindungan yang cukup. Sikap diam dianggap lebih aman daripada bersuara. Inilah tanda bahwa demokrasi sedang menuju titik paling rapuh. Negara yang warganya takut berbicara adalah negara yang kehilangan keberanian untuk berkembang.
Namun dalam kondisi sesulit ini tetap ada harapan yang bisa dijaga. Harapan itu lahir dari kesadaran bahwa demokrasi tidak akan pulih hanya dengan menunggu. Demokrasi harus diperjuangkan ulang. Warga harus kembali mengklaim hak untuk bersuara. Ruang publik harus direbut kembali dari dominasi narasi palsu. Pendidikan harus diarahkan untuk menumbuhkan keberanian berpikir kritis bukan hanya kemampuan menghafal. Media harus ditekan publik agar kembali menjadi penjaga informasi bukan penyebar propaganda. Dan yang paling penting warga harus sadar bahwa mereka bukan penonton yang diminta diam tetapi aktor yang memegang peran utama dalam panggung politik.
Setiap orang memiliki peran meskipun kecil. Menyebarkan informasi yang benar menolak narasi manipulatif menolak tekanan untuk diam semua itu adalah bagian dari perjuangan. Demokrasi tidak dihidupkan kembali oleh satu tindakan besar melainkan oleh ribuan tindakan kecil dari orang orang yang percaya bahwa suara mereka masih penting. Jika kita ingin keluar dari demokrasi palsu ini kita harus kembali menempatkan warga sebagai pusat kekuasaan bukan sebagai dekorasi dalam pesta politik yang hanya menguntungkan penguasa.
Pada akhirnya opini ini bukan sekadar kritik tetapi juga ajakan agar kita menyadari bahwa demokrasi tidak mati begitu saja tetapi perlahan dihancurkan oleh kelalaian kolektif. Kita membiarkan panggung politik dikuasai mereka yang lebih mementingkan kekuasaan daripada kebenaran. Kita membiarkan suara kita diperkecil hingga hanya menjadi bisikan. Namun semua itu bisa berubah jika kita memutuskan untuk tidak lagi diam. Demokrasi hanya mungkin hidup jika warganya hidup. Dan untuk itu kita harus kembali bersuara meski panggungnya telah lama dirampas.
Komentar