Artikel Populer AKU MENULIS AGAR AKU BISA TAHU

 


Ada kalimat yang sederhana tetapi memiliki keberanian yang jarang ditemukan pada zaman sekarang aku menulis agar aku bisa tahu bukan untuk mencari muka atau menjadi orang yang sok sipaling nulis. Pada permukaan ia mungkin terdengar seperti pengakuan biasa tetapi jika digali lebih dalam kalimat itu adalah bentuk perlawanan terhadap budaya yang menilai tulisan bukan dari kedalaman gagasan melainkan dari kemampuan seseorang tampil seolah paling tahu. Di dunia di mana banyak orang menulis untuk dipuji tampil dan bersaing meraih sorotan kalimat ini mengandung pembebasan yang amat penting yakni menulis sebagai proses memahami diri bukan sebagai pentas pertunjukan.

Menulis seharusnya menjadi jembatan antara batin dan kenyataan bukan panggung yang memaksa seseorang bergaya sok paling hebat. Namun kini banyak tulisan yang kehilangan kejujuran karena terlalu sibuk mencari kesan dan bukan kebenaran. Banyak orang menulis karena ingin terlihat pintar bukan karena benar benar ingin memahami dunia. Banyak yang menulis untuk mendapat pengakuan bukan untuk memahami diri sendiri. Padahal menulis semestinya adalah ruang untuk bertanya pada diri sendiri ruang untuk memahami apa yang selama ini sulit dijelaskan dengan suara ruang untuk menyentuh bagian hidup yang tidak terjangkau oleh pembicaraan sehari hari.

Menulis untuk tahu berarti menerima bahwa diri ini penuh ketidaktahuan yang menunggu dijelaskan. Bahwa ada bagian batin yang remuk tetapi belum sempat dipahami. Bahwa ada amarah yang belum diberi nama. Bahwa ada kehilangan yang belum diberi ruang. Menulis menjadi alat untuk masuk ke dalam wilayah yang jarang disentuh. Ketika seseorang menulis untuk mengerti ia sedang berusaha menyusun ulang hidupnya agar tidak terus terjatuh dalam kebingungan. Ia sedang berusaha menyambungkan pengalaman pengalaman kecil yang berserakan menjadi pemahaman yang utuh.

Namun proses ini tidak pernah terlihat mewah. Ia tidak menghasilkan citra. Ia tidak menghasilkan sorotan. Ia tidak memberi gelar. Karena itu menulis yang jujur sering dianggap tidak penting padahal justru dari sanalah seseorang bisa menemukan kembali dirinya yang tercecer. Budaya hari ini sering mendorong orang tampil pandai mereka diminta untuk menulis dengan gaya seolah mereka sudah menguasai semuanya. Padahal tidak ada yang lebih berbahaya daripada tulisan yang dibuat bukan dari rasa ingin tahu tetapi dari kebutuhan untuk tampil lebih tinggi dari orang lain.

Menulis untuk tahu membuat seseorang rendah hati karena ia berangkat dari ketidaktahuan. Ia tidak berpura pura menguasai semua hal. Ia hanya ingin memahami apa yang terjadi pada dirinya dan dunia. Dan sikap seperti itu sering kali lebih jujur lebih kuat dan lebih manusiawi daripada tulisan yang dibuat untuk meraih citra. Ketika seseorang menulis untuk tahu ia sedang kembali belajar menjadi manusia yang mau menerima keterbatasannya sendiri.

Menulis yang jujur juga adalah bentuk keberanian. Karena menulis berarti memandang diri sendiri dengan telanjang tanpa topeng dan tanpa kepura puraan. Banyak orang tidak berani melakukan itu karena mereka lebih nyaman menyembunyikan yang retak. Tetapi menulis menuntut seseorang membuka kembali apa yang selama ini disembunyikan. Menulis mencabut luka dari tempat gelapnya dan meletakkannya di atas meja. Dari situlah proses mengenal diri dimulai. Dan proses itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang hanya menulis untuk terlihat unggul.

Di era media sosial tulisan sering dijadikan alat pencitraan. Banyak yang sibuk membuat kalimat indah agar terlihat puitis meski tidak sedang jujur. Banyak yang menulis untuk mengumpulkan validasi. Mereka ingin disukai bukan ingin jujur. Mereka ingin dipuji bukan ingin mengerti. Padahal tulisan yang paling bertahan adalah tulisan yang lahir dari kejujuran. Tulisan yang datang dari hati yang gelisah hati yang mencari jawaban hati yang ingin sembuh. Bukan tulisan yang dibuat untuk terlihat hebat.

Menulis adalah cara untuk mengabadikan apa yang tidak bisa diucapkan. Namun ketika menulis digunakan untuk membangun kesan diri tulisan kehilangan maknanya. Ia menjadi kosong. Ia menjadi dangkal. Menulis yang dangkal mungkin terlihat indah di permukaan tetapi tidak meninggalkan apa apa dalam diri pembacanya. Berbeda dengan menulis untuk tahu yang justru mampu menyentuh hati pembaca karena ia ditulis dengan hati yang tulus mencari jawaban.

Menulis untuk tahu juga berarti menulis untuk diri sendiri pertama sebelum untuk orang lain. Ada orang orang yang menulis bukan untuk dipublikasikan melainkan untuk memahami apa yang terjadi dalam pikirannya. Mereka menulis agar isi kepala tidak menjadi badai yang tak terkendali. Mereka menulis untuk bertahan. Mereka menulis agar hidup terasa masuk akal. Dan tulisan seperti itu sering kali jauh lebih kuat daripada tulisan yang dibuat demi penilaian.

Menulis tidak pernah seharusnya menjadi arena kompetisi siapa paling puitis siapa paling kritis siapa paling idealis. Namun sering kali dunia membentuk persepsi bahwa tulisan harus dipakai untuk menunjukkan kemampuan seseorang agar ia diakui. Banyak orang takut menulis jujur karena takut terlihat lemah. Padahal justru kejujuran itulah yang membuat tulisan bernyawa. Tidak ada tulisan besar yang lahir dari kepalsuan.

Aku menulis agar aku bisa tahu bukan untuk mencari muka atau menjadi orang yang sok sipaling nulis adalah pernyataan yang meruntuhkan seluruh tekanan palsu itu. Kalimat ini mengembalikan menulis pada asalnya yaitu sebagai kebutuhan internal bukan kebutuhan sosial. Menulis adalah cara menenangkan diri bukan cara memamerkan diri. Menulis adalah proses memeluk luka bukan proses mencari pujian. Menulis adalah perjalanan pulang bukan perjalanan menuju panggung.

Kalimat ini juga menjadi kritik bahwa budaya kita terlalu sering menilai orang dari tampilannya bukan dari kedalaman pemikirannya. Banyak yang mengira seseorang yang rajin menulis pasti ingin terlihat pintar. Padahal banyak dari mereka menulis karena tidak punya tempat lain untuk bercerita. Banyak yang menulis karena dunia luar terlalu berisik dan hanya tulisan yang mampu membuat mereka bernapas. Banyak yang menulis karena tidak ada siapa pun yang bisa mendengar kegelisahan mereka. Untuk orang seperti itu menulis adalah bentuk keberanian kecil untuk tetap hidup.

Ketika seseorang menulis untuk tahu ia tidak sedang bersaing. Ia sedang belajar berdialog dengan dirinya. Ia sedang mencari nama untuk rasa yang selama ini ia sembunyikan. Ia sedang berusaha mengurai belitan yang mengganggu kepalanya. Dan siapa pun yang pernah menjalani proses ini tahu bahwa menulis tanpa kepura puraan adalah salah satu bentuk kejujuran yang paling sulit dilakukan.

Di dalam proses itulah seseorang menemukan identitasnya perlahan. Menulis bukan sekadar menyusun kata tetapi menyusun ulang hidup. Menulis untuk tahu adalah cara untuk memahami trauma memahami kehilangan memahami cinta memahami kemarahan memahami diri sendiri. Menulis menjadi perjalanan batin yang tidak membutuhkan penonton. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk jujur.

Barangkali inilah alasan mengapa menulis tidak pernah bisa bohong. Tulisan yang dibuat hanya untuk terlihat hebat akan terasa kosong. Namun tulisan yang dibuat untuk menyembuhkan diri meninggalkan jejak yang kuat. Pembaca bisa merasakannya meski penulis tidak menyebutkan apa apa. Kejujuran selalu punya getaran sendiri. Ia menembus bahasa menembus struktur dan langsung menuju hati pembaca.

Menulis bukan tentang siapa yang paling puitis atau paling lantang. Menulis adalah cara manusia memahami dirinya di tengah dunia yang terus bergerak tanpa jeda. Menulis adalah cara menemukan ruang untuk bernapas. Menulis adalah cara menyadari betapa rapuhnya kita dan betapa banyak yang belum kita pahami. Karena itu menulis untuk tahu adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri.

Pada akhirnya dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang sok sipaling nulis. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang menulis dengan jujur. Dunia membutuhkan lebih banyak tulisan yang mencari makna bukan sorotan. Dunia membutuhkan lebih banyak suara yang berangkat dari hati bukan dari kebutuhan untuk terlihat unggul.

Dan itulah mengapa kalimat sederhana itu begitu penting. Aku menulis agar aku bisa tahu. Sesederhana itu tetapi sedalam itu. Sebab menulis tidak pernah tentang orang lain. Menulis adalah proses menemukan kembali siapa diri kita sebenarnya sebelum dunia meminta kita menjadi orang lain.

Komentar