Cerpen Hujan yang Menghapus Nama Kita


Hujan turun sejak sore mengubah warna langit menjadi kelabu pekat seolah semesta sedang menarik tirai panjang untuk menutup sebuah pementasan yang terlalu melelahkan. Di balik kaca jendela sebuah kamar kecil di lantai dua rumah tua itu Raina berdiri memandangi pekarangan yang semakin tergenang air. Daun jambu yang biasanya tampak cerah kini menekuk menanggung beban butiran hujan. Raina merapatkan cardigan tipis yang tak pernah benar benar menghangatkan tubuhnya. Ia selalu merasa dingin sejak peristiwa itu dingin yang bukan berasal dari udara tetapi dari ruang hampa yang tiba tiba tumbuh dalam dadanya.

Di kota kecil itu orang sering berkata bahwa setiap hujan membawa kabar. Ada yang percaya kabar baik ada pula yang percaya sebaliknya. Namun bagi Raina hujan adalah pengingat kepergian. Hujan adalah saksi yang paling setia karena hari itu pada pukul yang tidak pernah ingin ia ingat Kaysan meninggalkannya dengan ucapan yang sampai kini menggema setiap kali ia memejamkan mata.

Aku lelah Rai. Kita berhenti di sini.

Tidak ada alasan lain. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada kesempatan untuk bertanya. Kalimat itu meluncur begitu saja seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur lalu hilang tanpa suara.

Kaysan adalah segalanya bagi Raina setidaknya itu yang ia yakini selama tiga tahun yang ia isi dengan seluruh tenaga dan perasaan yang ia punya. Mereka bertemu di perpustakaan kampus saat Raina menjatuhkan buku tebal yang kemudian diambilkan Kaysan sambil tersenyum lebar. Senyum itu yang membuat Raina yakin dunia masih memiliki ruang aman untuknya. Mereka tumbuh bersama saling bercerita tentang masa depan yang rasanya begitu dekat. Lalu tiba tiba semuanya runtuh seperti bangunan tua yang retak di dalam gempa kecil.

Raina menutup jendela lalu kembali ke meja belajarnya. Kertas kertas berserakan dipenuhi coretan yang tak lagi bermakna. Sejak ditinggalkan ia tidak bisa menulis apa pun padahal menulis adalah satu satunya cara ia bertahan hidup. Kata kata mengering di ujung jarinya. Ia menatap pena yang mati di genggamannya seolah pena itu bisa memintanya kembali menjadi manusia yang utuh. Namun kekosongan tak mengenal kompromi.

Malam semakin turun ketika suara derap langkah melintasi teras rumah. Raina tertegun. Tidak ada tamu yang akan datang di tengah hujan begini. Ia berjalan perlahan membuka pintu. Di sana berdiri seorang laki laki berpayung hitam wajahnya basah sebagian karena hujan sebagian lain karena lelah perjalanan.

Raina menahan napas.

Arven.

Nama itu langsung memukul sesuatu di dalam dirinya sebuah halaman lama yang pernah ia tutup rapat. Arven adalah sahabat masa kecilnya laki laki yang pernah menjadi langit bagi hari harinya sebelum hidup membawa mereka pada dua jalan berbeda. Arven pindah ke kota empat tahun lalu dan sejak saat itu komunikasi mereka merenggang seperti tali yang dibiarkan mengendur terlalu lama.

Raina mengerjap. Untuk sesaat ia tidak percaya bahwa Arven benar benar ada di depannya bukan hanya bayangan yang diciptakan kesepiannya.

Hai Rai sudah lama sekali ya

Suaranya dalam tetapi hangat suara yang mampu memecah dingin hujan. Raina mempersilakannya masuk tanpa berkata banyak. Ada getaran halus di jemarinya saat ia menutup pintu kembali. Udara rumahnya kini berubah seolah Arven membawa kehangatan baru yang selama ini menghilang.

Mereka duduk di ruang tamu hening mengisi jarak di antara mereka seperti ritual yang harus dijalani sebelum kalimat kalimat penting diucapkan.

Kenapa kamu datang tanya Raina akhirnya hampir berbisik.

Arven menarik napas panjang seperti sedang memilih kata yang tepat untuk seorang perempuan yang sedang hancur namun tidak ingin mengakuinya. Aku dengar kamu drop. Dari teman lama kita. Aku khawatir. Jadi aku datang melihat kamu.

Raina mengalihkan pandangan ke lantai. Hatinya menusuk pelan oleh perhatian yang tidak ia minta tetapi diam diam ia butuhkan. Ia mengangguk meski ia tidak tahu apa yang harus dibalas. Sunyi memeluk mereka kembali.

Arven memperhatikan wajah Raina yang pucat dan mata sembabnya yang berusaha disembunyikan. Kamu terlihat sangat lelah Rai. Kamu tidak harus pura pura kuat di depan aku.

Kalimat itu seperti kunci yang membuka pintu yang dipertahankan Raina selama berbulan bulan. Air matanya jatuh begitu saja. Ia menutup wajah dengan telapak tangan bahunya bergetar menahan isak yang tak lagi bisa dibendung.

Arven mendekat tidak menyentuhnya tetapi cukup dekat untuk menjadi tempat kembali. Tidak perlu cerita sekarang katanya perlahan. Aku cuma ingin kamu tahu kamu tidak sendirian.

Raina menangis cukup lama sampai hujan di luar mereda. Ketika ia akhirnya tenang ia menyandarkan punggung ke sofa. Arven menatapnya penuh kesabaran.

Aku tidak mengerti kenapa semuanya tiba tiba hancur ucap Raina dengan suara parau. Aku sudah memberikan semuanya. Tapi pada akhirnya aku hanya ditinggalkan tanpa penjelasan.

Tidak semua yang kamu berikan akan kembali dengan cara yang kamu inginkan jawab Arven lembut. Tetapi bukan berarti kamu tidak layak dicintai. Kadang orang pergi bukan karena kita buruk tapi karena mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka cari.

Raina menatapnya lama lama. Arven selalu memiliki cara berbicara yang membuat kata kata terasa seperti selimut. Hangat tetapi tidak memaksa.

Malam semakin larut. Arven bangkit untuk membuatkan teh. Ketika ia kembali dua cangkir di tangannya mengepulkan aroma melati. Raina menerimanya pelan. Hangatnya mengalir ke ujung jarinya lalu ke dadanya yang sempit.

Arven duduk kembali. Aku tahu kamu mungkin tidak percaya sekarang tapi kamu akan sembuh Rai. Luka paling dalam pun punya caranya sendiri untuk mengering. Dan aku akan tetap di sini selama kamu butuh tempat pulang.

Kata pulang membuat Raina menunduk. Ia lupa kapan terakhir kali mendengar kata itu dan benar benar merasa pantas untuk pulang kepada seseorang.

Kamu tidak harus menungguku bilang Raina pelan. Aku berantakan. Dan mungkin tidak akan pulih besok atau lusa.

Aku tidak ke sini untuk menunggu kamu sembuh. Aku ke sini untuk menemani kamu melewati proses itu.

Jawaban itu menghantam Raina dengan lembut sekaligus kuat. Ia memejamkan mata bukan untuk mengurangi sakit tetapi untuk merasakan bobot kejujuran Arven. Kejujuran yang selama ini tidak ia dapatkan dari siapa pun termasuk dari dirinya sendiri.

Di luar hujan berhenti meninggalkan aroma tanah basah yang selalu memiliki cara menenangkan pikiran. Arven berdiri lalu membuka sedikit jendela agar udara segar masuk. Raina memperhatikan punggungnya yang tegap punggung yang dulu selalu berjalan di depannya dan sesekali menoleh memastikan ia masih mengikutinya.

Kamu tahu Rai aku selalu percaya kamu adalah rumah bagi banyak hal. Cerita tulisan mimpi. Jangan biarkan seseorang yang tak memahami nilaimu menghancurkan rumah itu. Kamu layak dibangun kembali.

Raina mengangkat wajahnya perlahan. Arven kembali duduk menatapnya lekat seolah sedang membaca halaman halaman dirinya yang selama ini ia pikir sudah robek tak bisa dibaca lagi.

Terima kasih Ven ucapnya akhirnya. Kalimat sederhana itu terasa berat karena ia harus menyelam dalam dirinya untuk menemukannya.

Arven tersenyum tipis. Senyum yang dulu ia cintai diam diam. Senyum yang menjadi penanda bahwa tidak semua hal yang hilang harus dilupakan. Beberapa hanya perlu ditemukan kembali pada waktu yang tepat.

Malam itu berlalu dengan percakapan ringan tentang masa kecil tentang momen yang pernah mereka bagi tentang mimpi yang dulu ingin mereka kejar bersama. Tidak ada kalimat berbunga yang dibuat buat. Tidak ada janji muluk. Hanya kehadiran. Hanya dua manusia yang duduk berdampingan mencoba menjadi utuh.

Ketika Arven akhirnya pamit pulang hujan turun lagi. Raina berdiri di teras mengantarnya. Payung hitam Arven terbuka. Namun sebelum ia melangkah Arven menoleh sekali lagi.

Rai ketika semuanya terasa gelap ingat bahwa masih ada orang yang rela menyalakan lampu untukmu. Kamu hanya perlu membuka pintu.

Raina tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Arven yang menjauh perlahan hingga samar lalu menghilang di tikungan jalan.

Ketika pintu rumah tertutup Raina mendekap dadanya. Ada sesuatu yang berubah. Tidak besar. Tidak dramatis. Hanya sebuah denyut kecil yang selama ini hilang. Sebuah ruang hangat yang mulai tumbuh kembali.

Ia berjalan menuju meja belajarnya. Pena itu masih tergeletak di sana. Raina mengambilnya perlahan. Untuk pertama kalinya setelah berbulan bulan ia merasa kata kata mungkin bisa kembali. Ia tidak tahu apakah tulisannya akan indah. Ia tidak tahu apakah besok ia akan kembali tenggelam dalam gelombang kesedihan. Tapi malam itu dengan hujan sebagai saksi ia menulis kalimat pertama yang mengalir dari keberaniannya untuk memulai lagi.

Hujan hari ini tidak lagi membawa kabar buruk. Hujan hari ini menghapus nama yang menyakitiku dan membuka ruang untuk seseorang yang tidak pernah berhenti mencariku.

Dan kalimat itu tumbuh menjadi cerita yang menumpahkan semuanya. Cerita yang akhirnya membuatnya bernapas lebih ringan. Cerita yang mungkin bukan tentang akhir bahagia tetapi tentang perjalanan pulang menuju dirinya sendiri.


Komentar

Postingan Populer