Puisi Di Antara Waktu yang Tak Selesai


Di antara waktu yang tak selesai,

aku berjalan menyusuri lorong-lorong sunyi

yang dibangun dari kenangan,

yang dipoles oleh penantian,

yang ditopang oleh harapan-harapan kecil

yang kadang tumbuh seperti rumput liar

dan kadang mati perlahan

tanpa sempat diberi nama.


Aku melihat bayangku sendiri

dari kejauhan,

berjalan lebih cepat dariku,

seolah ia tahu tujuan

sementara aku masih menggenggam tanya,

masih meraba-raba arah,

masih bertanya pada angin

apakah langkahku terlalu pelan

atau justru terlalu ragu

untuk disebut sebagai langkah.


Waktu di sekelilingku memanjang,

mengulur seperti benang kusut

yang tak pernah selesai ditarik.

Setiap helainya membawa cerita

yang pernah kutinggalkan,

yang tak sempat kuselesaikan,

yang kubiarkan mengambang

di antara “mungkin” dan “nanti”.

Dan entah sejak kapan

aku menjadi seseorang

yang selalu menunda diri sendiri.


Ada lampu-lampu kecil

di sepanjang jalan itu,

lampu yang tampak letih

namun tetap menyala

hanya untuk membuktikan

bahwa cahaya tak perlu sempurna

untuk menjadi penuntun.

Aku berhenti di bawah salah satunya,

melihat kilau retaknya,

dan bertanya pada diri sendiri

berapa banyak hal yang kusimpan retak

namun tetap kupaksa menerangi.


Di antara waktu yang tak selesai,

aku menyapa masa lalu

diam-diam,

tanpa suara,

tanpa keberanian penuh.

Masa lalu itu duduk di bangku tua

berwarna coklat pudar,

mengayunkan kaki

seolah memainkan nada lama

yang pernah membuatku jatuh cinta

pada kehidupan.

Ia menatapku

dengan mata yang kukenal,

mata yang dulu menampung mimpiku

yang polos dan berani.


“Mengapa kau kembali begitu terlambat?”

tanyanya,

tanpa marah,

tanpa kecewa,

hanya rasa ingin tahu

yang menggantung di udara.


Aku tak menjawab.

Karena bagaimana mungkin

aku menjelaskan bahwa waktu

kadang berjalan tanpa menunggu kita?

Bahwa hidup kadang membawa kita

ke persimpangan yang tak kita pilih?

Bahwa ada hari-hari

ketika aku ingin pulang

tapi tak tahu pada siapa,

tak tahu kepada apa?


Masa lalu tersenyum,

senyum yang membuat malam

lebih lembut untuk ditinggali.

“Tak apa,” katanya,

“setidaknya kau masih ingat jalan pulang.”


Aku ingin memeluknya,

tapi ia hanyalah bayangan

yang membawaku pada kenyataan

bahwa beberapa hal

tak kembali menjadi utuh,

namun tetap layak disyukuri

karena pernah ada.


Di antara waktu yang tak selesai,

aku bertemu masa kini—

sosoknya berdiri tegak

namun menyimpan gelisah

yang bahkan tak berusaha ia tutupi.

Ia memanggilku

dengan suara yang berat,

suara yang mengandung guruh

dan matahari sekaligus.


“Apa yang kau cari?”

tanyanya,

tajam,

seolah ingin menembus

lapisan-lapisan keraguan

yang kupakai sebagai perisai.


Aku mengangkat bahu,

karena pertanyaan itu

terlalu besar untuk dijawab

dengan kata-kata kecil.

“Aku mencari diriku,” akhirnya aku berkata,

meski aku sendiri tak yakin

versi diriku yang mana

yang sebenarnya kuinginkan.


Masa kini menghela napas,

kemudian menepuk pundakku.

“Kau sudah menemukannya,” katanya,

“di setiap langkah yang kau ambil,

bahkan dalam langkah yang kau takutkan.

Kau hanya perlu berhenti

meyakini bahwa dirimu

selalu kurang.”


Di antara waktu yang tak selesai,

aku melanjutkan perjalanan,

menyusuri blok-blok hening

yang dipenuhi aroma tanah basah

dan dendang hujan yang baru saja reda.

Ada tanda tanya besar

menggantung di langit,

tapi untuk pertama kali

aku tidak berusaha menghapusnya.


Aku melihat sebuah jendela

yang setengah terbuka,

mengungkapkan bayangan masa depan

yang belum terjadi.

Di balik jendela itu,

aku melihat diriku sendiri

lebih tenang,

lebih lembut,

lebih mengerti arti kehilangan

dan arti merawat.

Ia menatapku dari masa depan

dan mengulurkan tangan,

seolah ingin berkata

“kau akan baik-baik saja”.


Aku ingin percaya,

namun rasa takut itu tetap ada

takut gagal,

takut kecewa,

takut berharap terlalu tinggi.

Tapi masa depanku tersenyum,

senyum yang membuatku sadar

bahwa harapan

bukan musuh,

melainkan jalan pulang

ketika dunia terasa terlalu besar.


Di antara waktu yang tak selesai,

aku menampung semua suaraku

yang tercecer

suaraku ketika bahagia,

ketika marah,

ketika patah,

ketika berharap,

ketika menunggu seseorang

yang tak mungkin kembali,

ketika berdamai dengan yang hilang,

ketika memaafkan diri sendiri

yang terlalu lama bertahan pada luka.


Aku menyatukan semuanya

menjadi satu suara panjang

yang mengalir seperti sungai tenang,

menyusuri dataran-dataran lapang

dan lembah-lembah sunyi

yang pernah kutinggali.


Aku berkata pada semesta

dengan suara yang tak bergetar:

“Aku ingin hidup,

bukan hanya bertahan.

Aku ingin berjalan,

bukan hanya ditarik oleh waktu.

Aku ingin mencintai diriku kembali,

tanpa terburu-buru,

tanpa memaksakan bentuk,

tanpa takut terlihat lemah.”


Dan angin membawa kata-kata itu

ke tempat-tempat yang jauh,

membiarkannya bergema

sebelum kembali kepadaku

dengan jawaban yang sederhana:

“Kau layak.”


Di antara waktu yang tak selesai,

aku berhenti sejenak

dan menutup mata.

Aku mendengar detak jantungku sendiri,

irama yang dulu kuanggap

terlalu sepi,

terlalu sendu,

terlalu berat.

Kini irama itu terasa seperti musik

yang telah menemani perjalanan panjang

yang tak pernah kusadari nilai indahnya.


Aku menarik napas,

mengumpulkan keberanian

yang tercecer di sepanjang usia.

Lalu aku membuka mata

dan melihat diriku sendiri

berdiri lebih dekat,

lebih nyata,

lebih kuat.


Di antara waktu yang tak selesai,

aku tersenyum.

Untuk pertama kali,

aku tidak ingin cepat sampai.

Karena ternyata perjalanan ini

lebih bermakna dari tujuan akhir.

Karena ternyata proses memahami diri

adalah puisi paling panjang

yang pernah kutulis

dalam hidupku.


Dan sambil melangkah,

aku berbisik pada angin:

“Aku belum selesai.

Tapi aku juga tidak lagi hilang.”



IshmatunNafila_Mahasiswa Akuntansi Syari'ah 

Komentar

Postingan Populer