Cerpen Hujan Kenanga
Hujan turun sejak subuh, mula-mula hanya titik kecil yang ragu menyentuh tanah sebelum berubah menjadi gerimis yang memanjangkan bayangan pepohonan di sepanjang Jalan Kenanga. Di ujung jalan itu, tepat di depan rumah tua bercat biru kusam, seorang lelaki berdiri dengan map coklat di pelukannya. Namanya Revan, usianya tiga puluh lima, rambutnya sudah mulai ditandai uban, dan langkahnya bimbang sejak ia turun dari angkot.
Ia sudah dua puluh tahun tidak menginjakkan kaki di jalan ini. Dua puluh tahun sejak masa mudanya menghilang seperti kabut pagi yang dihempas panas hari.
Rumah di depannya membuat dadanya mengencang. Ia menatap pagar yang mulai berkarat sambil bergumam pelan bahwa semuanya masih sama. Bahkan warna biru di dinding itu seperti tidak pernah tersentuh waktu. Ia ragu mengetuk pintu. Bukan karena hujan atau udara yang menusuk kulit tetapi karena kenangan yang seolah berkumpul dan menahan pergelangan tangannya.
Di balik jendela, seorang perempuan setengah baya muncul. Pandangannya membesar ketika melihat Revan seakan waktu meletus dan melempar wajah yang ia kenal dari dua dekade lalu.
Perempuan itu membuka pintu dengan suara yang bergetar memanggil namanya. Revan menyapa dengan menunduk pelan dan bertanya apakah ia boleh masuk. Perempuan itu menjawab tentu saja lalu berkata bahwa ia tidak pernah menyangka Revan masih ingat jalan pulang.
Kalimat itu membuat dada Revan terasa sesak. Rumah ini memang bukan miliknya tetapi ia menghabiskan begitu banyak waktu di sini semasa SMA. Tempat ia bersembunyi dari pertengkaran orang tuanya, tempat ia menghabiskan sore-sore panjang, dan tempat seorang gadis bernama Lira tinggal.
Ketika masuk, aroma kayu basah dan teh melati menyambutnya. Tidak banyak yang berubah kecuali deretan pigura yang kini memenuhi lemari ruang tamu. Revan duduk perlahan dengan map coklat yang tak lepas dari genggamannya.
Ia membuka suara dengan pelan. Namun Bu Ratih lebih dulu menebak maksud kedatangannya. Ia berkata bahwa Revan datang untuk menepati janji. Revan hanya mengangguk dan menatap map itu seakan di dalamnya ada sesuatu yang lebih berat dari kertas.
Bu Ratih mulai bercerita tentang masa lalu. Ia mengingat bagaimana Revan dan Lira duduk di bawah pohon jambu di halaman belakang. Mereka menulis daftar mimpi dan Lira selalu menuliskan hal pertama yaitu melihat Revan menjadi arsitek hebat. Revan menanggapi dengan tawa getir dan berkata bahwa ia tidak hebat, hanya arsitek biasa. Tetapi Bu Ratih menjawab bahwa Revan sudah menepati mimpinya, dan itu sudah lebih dari cukup.
Hening merayap setelah itu. Revan akhirnya bertanya dengan suara yang bergetar tentang Lira. Bu Ratih menjawab dengan lembut bahwa Lira sudah tiada sejak lima tahun lalu. Penyakit itu datang terlalu cepat dan merampas semua kesempatan yang seharusnya belum habis.
Revan memejamkan mata. Ada sesuatu di dalam dirinya yang runtuh begitu saja. Ia tahu Lira sakit namun ia tidak pernah tahu separah apa. Kesibukan, perjalanan, dan mimpi yang ia kejar membuatnya lupa bahwa beberapa orang tidak menunggu selamanya.
Bu Ratih bangkit menuju kamar belakang. Ia kembali membawa sebuah kotak kayu kecil yang diletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Ia berkata kotak itu hanya boleh dibuka oleh Revan.
Ketika kotak itu dibuka, Revan melihat sebuah buku kecil, pita rambut hijau, dan sepucuk surat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tangannya gemetar ketika meraih surat itu.
Isi surat tersebut adalah suara Lira yang kembali hidup. Lira menulis bahwa jika Revan membaca surat ini berarti ia menepati janjinya untuk kembali. Ia menulis bahwa ia menyayangi Revan jauh sebelum Revan menyadarinya. Ia berkata bahwa ia tidak pernah ingin menahan Revan dan tidak ingin menjadi beban dalam hidupnya. Ia ingin Revan terbang sejauh mungkin. Jika suatu hari Revan kembali dan tidak menemukannya lagi, ia berharap Revan tidak berlarut dalam duka. Satu hal yang ia titipkan adalah agar Revan membangun sesuatu yang membuatnya mengingat Lira dengan senyum bukan dengan air mata.
Ketika Revan melipat kembali surat itu, dadanya seperti dipenuhi oleh rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Penyesalan, rindu, dan putus yang selama bertahun-tahun ia kubur akhirnya pecah.
Bu Ratih kembali bicara dengan suara lembut. Ia berkata bahwa Lira menunggu Revan di setiap ulang tahunnya, di setiap kabar yang Revan kirim, dan di setiap mimpinya yang terwujud. Lira tidak pernah marah bahkan ketika Revan tidak kembali. Menurut Lira, cinta bukanlah menahan orang yang dicintai tetapi melepaskannya agar bisa pergi sejauh mungkin.
Revan merasa tubuhnya lemas. Ia berkata ia bodoh karena tidak pulang saat tahu Lira sakit. Tetapi Bu Ratih menjawab bahwa bagi Lira, cinta bukan soal hadir atau tidak hadir tetapi soal keyakinan bahwa Revan harus mengejar mimpinya.
Revan meminta izin untuk melihat pohon jambu di halaman belakang. Mereka melangkah ke sana dan menemukan pohon itu masih berdiri kokoh meski sudah jauh lebih besar. Tempat itu adalah tempat mereka menghabiskan sore paling sederhana namun paling berarti. Revan menyentuh batang pohon itu dan terasa seperti menyentuh masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia berkata bahwa ia membangun banyak gedung di berbagai kota namun tidak ada satu pun yang membuatnya merasa benar-benar berarti. Ia kemudian mengakui bahwa di dalam map itu ada rencana pembangunan taman di sisi sungai kota. Nama taman itu adalah Taman Lira. Ia ragu menyerahkannya pada pemerintah karena takut orang menganggapnya memanfaatkan nama gadis itu. Namun Bu Ratih memegang bahunya dan berkata bahwa apa pun yang Revan bangun dengan niat baik adalah bentuk penghormatan bukan pemanfaatan.
Hujan perlahan mereda ketika Revan akhirnya merasa yakin. Bu Ratih berkata bahwa Lira ingin Revan melanjutkan hidupnya, bukan berhenti di masa lalu. Revan mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa langkah yang menunggunya di depan sana tidak lagi kabur.
Ia pamit dan Bu Ratih mengantarnya sampai pagar. Perempuan itu berkata pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk Revan. Revan membungkuk hormat lalu melangkah pergi di sepanjang Jalan Kenanga. Hujan sudah berhenti sepenuhnya menyisakan aroma tanah basah dan dedaunan yang jatuh di atas aspal.
Di ujung jalan ia berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Rumah tua bercat biru itu tampak damai di bawah langit yang mulai cerah. Ia berbisik pelan terima kasih kepada Lira dan berjanji akan membangun taman itu. Ia ingin setiap orang yang duduk di sana mengenal nama yang pernah membuat hidupnya lebih terang.
Revan melangkah dengan dada yang tidak lagi sepekat hujan. Ia membawa cinta yang tidak lagi menyakitkan tetapi menguatkan, seperti hujan di ujung Jalan Kenanga yang tidak datang untuk menghapus kenangan melainkan untuk menyegarkannya kembali.
IshmatunNafila_Mahasiswa Akuntansi Syari'ah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar