Kebenaran Tidak Lagi Punya Kursi di Ruang Publik
Masyarakat akhirnya terbiasa dengan keadaan ini. Mereka menerima bahwa suara paling keras adalah suara paling benar. Mereka menerima bahwa emosi lebih penting daripada data. Mereka menerima bahwa kemarahan bisa menggantikan argumen. Ketika kebiasaan ini mendarah daging maka seluruh struktur kehidupan sosial runtuh perlahan. Kita melihatnya setiap hari. Kita menyaksikan percakapan publik yang semakin dangkal. Kita menyaksikan orang saling menghakimi tanpa dasar. Kita menyaksikan bagaimana sebuah kabar palsu dapat memecah belah keluarga dan tetangga. Kita menyaksikan bagaimana narasi yang keliru dapat mengarahkan perhatian publik dari masalah nyata menuju sensasi yang tidak perlu.
Apa yang disebut opini publik hari ini bukan lagi hasil perenungan kolektif. Ia dihasilkan oleh arus informasi yang sengaja diarahkan untuk menciptakan kebingungan. Banyak orang tidak sadar bahwa kebingungan adalah alat yang sangat efektif bagi kekuasaan. Masyarakat yang bingung tidak mampu merespons isu dengan tepat. Mereka terombang ambing antara ketakutan dan kemarahan. Pada titik itu penguasa dapat memainkan peran sebagai penyelamat. Padahal penguasa itu sendiri sering kali menjadi pencipta kebingungan tersebut.
Fenomena ini tampak jelas ketika muncul isu isu sosial. Setiap kali ada persoalan struktural yang membutuhkan pemahaman serius publik justru diarahkan pada drama. Kehidupan politik berubah menjadi tontonan yang mirip acara hiburan. Setiap konflik dipresentasikan sebagai duel emosional bukan sebagai persoalan yang harus didekati lewat analisis. Publik akhirnya lupa bahwa mereka sedang dibentuk menjadi konsumen informasi bukan sebagai warga negara yang memiliki hak dan tanggung jawab. Ketika publik terjebak dalam posisi konsumen maka seluruh realitas sosial dibentuk berdasarkan selera bukan kebutuhan.
Selera bukan sesuatu yang stabil. Ia mudah dipengaruhi dan mudah dimanipulasi. Di sinilah kekuasaan bekerja paling efektif. Mereka tahu bahwa masyarakat lebih menyukai narasi pahlawan. Maka mereka menciptakan pahlawan baru setiap hari. Mereka tahu bahwa masyarakat membutuhkan musuh. Maka mereka menyediakan musuh imajiner yang bisa diserang tanpa konsekuensi. Sementara itu akar persoalan tidak disentuh. Orang yang berusaha mengajak publik memahami struktur masalah justru dianggap terlalu rumit atau terlalu elit. Padahal kerumitan bukan musuh publik. Kebodohan lah musuh yang seharusnya ditakuti.
Opini tajam selalu mengganggu kenyamanan. Bukan karena ia kasar tetapi karena ia menyingkap hal hal yang ingin ditutupi oleh narasi dominan. Kenyamanan adalah selimut yang digunakan kekuasaan untuk menenangkan publik. Ketika masyarakat mulai merasa nyaman dengan kebohongan maka ruang publik akan membusuk. Kita menyaksikan pembusukan ini dalam banyak bentuk. Ada orang yang lebih percaya pada teori konspirasi daripada laporan ilmiah. Ada orang yang lebih percaya pada video berdurasi lima belas detik daripada penyelidikan mendalam. Ada orang yang lebih percaya pada kesimpulan yang mereka inginkan daripada kenyataan yang memang pahit.
Kita harus berani mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat telah kehilangan disiplin intelektual. Banyak orang tidak lagi membaca dengan teliti. Mereka hanya memindai. Mereka tidak lagi mendengar dengan sungguh sungguh. Mereka hanya menunggu giliran untuk berbicara. Mereka tidak lagi menimbang sebuah argumen. Mereka hanya mencari bagian yang dapat memperkuat keyakinannya sendiri. Ketika kebiasaan ini berlangsung lama maka akurasi berpikir perlahan hilang. Pada masa ini hilangnya akurasi pikir menjadi salah satu sumber bencana sosial yang paling besar.
Kita bisa melihatnya dalam cara masyarakat merespons kritik. Kritik tidak lagi dipandang sebagai bagian penting dari perbaikan. Ia dipandang sebagai ancaman. Siapa pun yang mengemukakan kritik dianggap mengganggu stabilitas. Padahal stabilitas yang menolak kritik adalah stabilitas yang rapuh. Kritik adalah alarm. Tetapi banyak orang lebih memilih membungkam alarm daripada memperbaiki api yang sedang membakar rumah. Mereka merasa terganggu oleh bunyinya tanpa menyadari bahwa bunyi itu menandai adanya bahaya yang nyata.
Ketika masyarakat anti kritik maka penguasa dapat berjalan tanpa pengawasan. Pada titik inilah kebohongan paling mudah bekerja. Kebohongan yang paling efektif adalah kebohongan yang disampaikan dengan suara penuh keyakinan. Banyak politisi memahami hal ini dengan sangat baik. Mereka berbicara dengan penuh hasrat walaupun tidak memiliki isi. Mereka menebar janji tanpa perhitungan. Mereka menciptakan ilusi kemajuan yang tidak pernah terbukti. Namun publik mengikuti mereka karena gaya bicara mereka meyakinkan. Di dunia yang dipenuhi kebingungan tampilan lebih penting daripada bukti.
Opini tajam harus berani mengungkap bahwa kerusakan intelektual publik adalah salah satu bentuk kerusakan moral. Sebab moral tidak hanya tentang perilaku. Moral juga tentang tanggung jawab menggunakan akal untuk menilai baik dan buruk. Masyarakat yang menyerahkan akalnya kepada narasi yang mudah dicerna adalah masyarakat yang membiarkan dirinya dibentuk oleh kepalsuan. Pada saat itu mereka bukan hanya korban. Mereka juga menjadi pelestari kerusakan.
Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah sistem pendidikan yang gagal melatih kebiasaan berpikir. Banyak lembaga pendidikan mengajarkan bahwa jawaban yang benar adalah jawaban yang sesuai kunci jawaban. Mereka tidak mengajarkan bahwa dunia nyata tidak memiliki kunci jawaban. Mereka tidak mengajarkan bahwa satu masalah dapat dipandang dari banyak sisi. Pendidikan yang dibangun di atas hafalan hanya menghasilkan generasi yang mudah diarahkan. Generasi seperti ini sangat rentan terhadap manipulasi informasi. Mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan intelektual.
Media pun berperan besar dalam memperburuk keadaan. Banyak media memilih menghasilkan konten cepat daripada konten yang mendalam. Mereka memproduksi berita yang hanya mengikuti gelombang emosi publik. Mereka membingkai isu berdasarkan apa yang paling mudah mengundang reaksi. Padahal tugas media bukan menyediakan reaksi melainkan menyediakan pemahaman. Ketika media berhenti menjadi jembatan pengetahuan maka ruang publik akan dipenuhi simpang siur informasi yang saling menutup kebenaran.
Di tengah kerusakan ini kita membutuhkan suara yang dengan tegas mengingatkan bahwa masyarakat tidak akan pernah berkembang jika mereka terus memilih jalan paling mudah. Jalan paling mudah adalah percaya tanpa bertanya. Jalan paling mudah adalah marah tanpa menganalisis. Jalan paling mudah adalah mengikuti arus meski arus itu mengantar pada jurang. Namun jalan paling mudah hampir selalu membawa konsekuensi paling mahal. Masyarakat yang menolak berpikir pada akhirnya akan dipimpin oleh mereka yang paling pandai menggunakan kebodohan sebagai komoditas.
Masyarakat yang dewasa tidak menghindari kerumitan. Mereka memeluk kerumitan sebagai bagian dari kehidupan modern. Mereka paham bahwa kebenaran tidak selalu menyenangkan. Mereka paham bahwa kritik tidak selalu manis. Mereka paham bahwa perubahan membutuhkan pemahaman mendalam. Tetapi untuk sampai ke tahap ini masyarakat harus melewati satu proses penting yakni keberanian untuk mengakui bahwa mereka sedang ditipu oleh kenyamanan.
Opini yang tajam harus menghantam titik ini tanpa ragu. Kita tidak boleh lagi membiarkan ruang publik dipenuhi gaya berbicara tanpa gagasan. Kita tidak boleh membiarkan politisi memanfaatkan kebingungan publik. Kita tidak boleh membiarkan media memproduksi sensasi alih alih pemahaman. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa ruang publik telah bergerak menjauh dari akal sehat. Dan kita harus berani memanggil masyarakat kembali ke jalur berpikir yang benar.
Ini bukan tugas kecil. Ini adalah tantangan besar. Tetapi tanpa keberanian menghadapinya kita akan terus hidup dalam kebisingan yang destruktif. Kebisingan itu tidak hanya merusak kualitas percakapan. Ia merusak hidup. Ia merusak keputusan publik. Ia merusak masa depan generasi yang akan tumbuh dengan gagasan bahwa kebenaran hanyalah aksesoris dalam pertarungan opini.
Ruang publik harus direbut kembali oleh mereka yang mau berpikir. Oleh mereka yang tidak takut mempertanyakan. Oleh mereka yang menghargai argumen lebih dari sensasi. Oleh mereka yang rela kehilangan popularitas demi mempertahankan integritas. Hanya dengan cara itu masyarakat dapat membangun kembali kepercayaan pada kebenaran. Hanya dengan cara itu demokrasi dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Jika masyarakat tidak segera bangun dari ketertipuannya maka ruang publik akan terus dikuasai oleh mereka yang menjual kebohongan sebagai hiburan dan menjual kepanikan sebagai alat kendali. Dan ketika itu terjadi kita tidak hanya kehilangan ruang publik. Kita kehilangan masa depan. Masyarakat yang kehilangan kemampuannya untuk membedakan kebenaran dari kebohongan pada akhirnya akan menjadi masyarakat yang mudah dihancurkan.
Opini ini tidak dimaksudkan untuk memanjakan pembaca. Ia dimaksudkan untuk mengguncang kesadaran. Sebab kesadaran yang tidak terguncang tidak akan bergerak. Dan masyarakat yang tidak bergerak akan terus menjadi korban dari permainan narasi yang semakin brutal. Sudah saatnya ruang publik kembali menjadi tempat gagasan tidak hanya tempat kebisingan. Sudah saatnya kebenaran kembali mendapatkan kursi yang layak di baris depan.
Komentar