Opini Kritis tentang Mahasiswa Indonesia dan Krisis Gerakan di Era Kampus Komersial


Mahasiswa sering dianggap sebagai kelompok intelektual paling progresif di dalam masyarakat Indonesia. Dalam sejarahnya, mahasiswa pernah menjadi suara yang mengguncang kekuasaan. Mereka turun ke jalan pada era enam puluhan hingga sembilan puluhan untuk menuntut perubahan, membela rakyat kecil, dan melawan negara ketika negara berjalan tanpa nurani. Namun di tengah masyarakat hari ini, posisi mahasiswa tidak lagi sejelas dulu. Bahkan dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan landscape yang sangat drastis hingga membuat gerakan mahasiswa seakan kehilangan arah dan kehilangan taring. Banyak isu besar muncul bergantian tetapi sedikit sekali gerakan mahasiswa yang mampu berdiri tegak mengangkatnya secara konsisten. Di sisi lain, kampus semakin bergerak seperti korporasi. Bukan hanya dalam pengelolaan dana tetapi juga dalam cara mereka memperlakukan mahasiswa sebagai konsumen bukan sebagai intelektual publik. Ironi ini jarang dibahas secara mendalam, padahal dampaknya sangat besar untuk masa depan demokrasi Indonesia.

Di banyak kampus, mahasiswa menghadapi tekanan struktural yang tidak pernah dialami generasi terdahulu. Biaya kuliah meningkat dari tahun ke tahun. Uang Kuliah Tunggal terus naik dan tidak berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. Untuk banyak keluarga kelas menengah ke bawah, menyekolahkan anak ke perguruan tinggi kini hampir seperti membeli barang mewah. Orang tua terpaksa berutang dan mahasiswa terpaksa bekerja sambilan. Dengan tekanan ekonomi seperti itu, banyak mahasiswa tidak lagi punya tenaga untuk berpikir jauh tentang keadilan sosial atau masalah negara. Fokus utama mereka adalah bertahan hidup. Fokus utama mereka adalah segera lulus agar tidak membebani keluarga lebih lama. Dalam situasi seperti itu, gerakan mahasiswa tidak mati karena tidak peduli. Ia redup karena mahasiswa dibuat sibuk bertarung melawan realitas ekonomi.

Lebih jauh lagi, kampus hari ini telah berubah menjadi lembaga yang tidak hanya mendidik tetapi juga memasarkan diri. Ada kampus yang memprioritaskan fasilitas estetis untuk pemasaran digital tetapi mengabaikan kualitas kurikulum. Ada kampus yang menggunakan retorika internasionalisasi untuk menjaga citra sementara mahasiswa dibiarkan pusing mencari ruang belajar yang layak. Ada pula kampus yang semakin sensitif terhadap kritik internal sehingga organisasi mahasiswa dibatasi. Bahkan beberapa kampus memasang kamera pengawas di setiap sudut dan menempatkan satpam di setiap pintu kelas untuk memastikan bahwa kampus tetap bersih dari protes. Semua ini membuat mahasiswa hidup dalam tekanan yang tidak terlihat tetapi sangat memengaruhi kebebasan berpikir.

Di tengah kondisi seperti itu, muncul pertanyaan besar yang seharusnya menjadi perdebatan nasional. Apakah kampus masih menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berpikir kritis. Ataukah kampus kini menjadi ruang steril yang memaksa mahasiswa untuk patuh dan tidak boleh melawan. Kelihatannya pertanyaan itu sederhana tetapi sebenarnya sangat penting karena universitas adalah salah satu tempat terakhir di mana demokrasi dapat dirawat. Jika mahasiswa tidak lagi bebas bicara, siapa yang akan menjadi penjaga akal sehat publik.

Di sisi lain, gerakan mahasiswa juga menghadapi tantangan zaman yang sangat berbeda. Generasi yang hidup saat ini adalah generasi yang tenggelam dalam arus informasi yang berlebihan. Media sosial menampilkan ratusan isu setiap hari. Ada isu korupsi, isu lingkungan, isu HAM, isu pendidikan, isu politik identitas, dan berbagai isu viral yang saling menenggelamkan satu sama lain. Karena semuanya muncul bersamaan, perhatian mahasiswa menjadi terpecah. Tidak ada satu isu pun yang mampu mendapat fokus yang panjang. Akibatnya gerakan mahasiswa menjadi reaktif bukan strategis. Mereka hanya bergerak ketika ada momentum besar seperti kebijakan kontroversial atau isu kekerasan tetapi sulit membangun gerakan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi.

Generasi sebelumnya bergerak karena mereka hidup dalam dunia yang lebih stabil secara informasi. Mereka bisa membaca koran dan memahami isu satu per satu. Ada waktu untuk merenungkan dan menganalisis. Hari ini, mahasiswa menerima ribuan data sekaligus dalam hitungan menit. Tetapi sebagian besar informasi itu tidak berada dalam kerangka analitis sehingga mahasiswa hanya terombang ambing tanpa arah. Isu tentang korupsi berlalu begitu cepat. Isu tentang kenaikan biaya kuliah viral sebentar lalu hilang. Isu tentang pelemahan demokrasi hanya bertahan beberapa hari. Di tengah kondisi seperti itu, sangat sulit membangun gerakan yang kuat karena energi mahasiswa habis untuk memproses informasi yang tidak henti mengalir.

Tantangan terbesar gerakan mahasiswa Indonesia hari ini bukan apatisme tetapi kebingungan. Kebingungan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak pihak. Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang merugikan tanpa perdebatan yang berarti. Kampus menaikkan biaya tanpa protes yang cukup besar. Industri masuk dengan program magang tak berbayar yang membungkus eksploitasi dalam kata pengalaman kerja. Bahkan beberapa kampus menjual sertifikasi kompetensi dan mahasiswa merasa tidak punya pilihan. Inilah bentuk paling halus dari pengendalian sosial. Mahasiswa dibuat sibuk, dibuat lelah, dibuat bingung, dan dibuat bersaing satu sama lain demi peluang kerja yang semakin sempit.

Di sisi lain, organisasi mahasiswa yang pernah menjadi kekuatan utama kini banyak yang kehilangan arah. Ada organisasi yang berubah menjadi formalitas dan tidak lagi memproduksi gagasan. Ada organisasi yang terjebak dalam gaya hidup simbolik seperti seragam, atribut, dan jargon tetapi tidak menyentuh masalah substansial. Ada pula organisasi yang sibuk dengan dinamika internal yang melelahkan sehingga energi mereka habis sebelum mampu menyentuh persoalan masyarakat. Tidak semua organisasi mengalami ini, tentu saja, tetapi kenyataan bahwa banyak yang demikian adalah tanda bahwa ada krisis kepemimpinan intelektual di kalangan mahasiswa.

Jika kita ingin memahami akar masalahnya, kita harus melihat bahwa kampus hari ini tidak mencetak mahasiswa sebagai pemikir tetapi sebagai pekerja masa depan. Kurikulum dibangun agar mahasiswa dapat cepat memasuki industri. Soft skill yang ditekankan bukan lagi kemampuan kritis tetapi kemampuan mengikuti standar korporasi. Bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa perjuangan tetapi bahasa kompetensi. Mahasiswa diajarkan untuk bersaing, bukan bekerja sama. Dalam situasi seperti itu, bagaimana mungkin muncul gerakan yang kuat. Gerakan membutuhkan solidaritas bukan kompetisi. Gerakan membutuhkan ruang kontemplasi bukan penilaian terus menerus. Gerakan membutuhkan keberanian melawan bukan ketakutan terhadap nilai dan akreditasi.

Namun meskipun kondisi tampak suram, sebenarnya ada potensi besar yang hanya perlu diarahkan. Generasi mahasiswa hari ini memiliki kemampuan teknologi yang sangat kuat. Mereka memahami dinamika media sosial. Mereka mampu menciptakan narasi viral dalam hitungan jam. Mereka mampu mengumpulkan ribuan suara melalui petisi digital. Mereka mampu mendokumentasikan kekerasan atau ketidakadilan secara langsung. Semua itu adalah kekuatan baru yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Tetapi kekuatan itu tidak berarti apa apa tanpa arah. Tanpa analisis struktural, gerakan digital hanya akan menjadi ribut sesaat kemudian hilang tanpa bekas.

Yang dibutuhkan hari ini adalah kemampuan menggabungkan dua dunia. Dunia analisis mendalam yang menjadi ciri aktivisme lama dan dunia teknologi yang menjadi ciri generasi sekarang. Mahasiswa harus mampu membaca isu dengan jernih, memahami akar persoalan, dan kemudian memanfaatkan teknologi untuk menjalankan gerakan yang strategis. Gerakan tidak harus selalu turun ke jalan. Gerakan bisa dilakukan melalui riset publik, kampanye digital yang konsisten, advokasi kebijakan, forum mahasiswa antar kampus, dan kolaborasi dengan komunitas lokal. Bahkan mahasiswa bisa membangun laboratorium gagasan untuk mengkritisi kampus yang semakin komersial. Jika mahasiswa mampu bergerak dengan cara ini, mereka akan menjadi kekuatan yang sangat besar.

Tetapi itu tidak akan terjadi jika mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam situasi struktural yang merugikan. Mahasiswa harus sadar bahwa kampus yang semakin mahal adalah bentuk ketidakadilan. Mahasiswa harus sadar bahwa pembatasan aktivitas organisasi adalah bagian dari upaya meredam kritik. Mahasiswa harus sadar bahwa beban administratif yang berlebihan adalah cara untuk menyita waktu berpikir. Mahasiswa harus sadar bahwa banjir informasi membuat mereka kehilangan fokus dan kehilangan kemampuan menganalisis. Kesadaran ini penting karena gerakan selalu lahir dari pemahaman bahwa ada sesuatu yang salah dan harus diperbaiki.

Jika generasi hari ini tidak mengambil peran, maka masa depan Indonesia akan kehilangan salah satu suara paling kritis yang pernah dimiliki bangsa ini. Mahasiswa bukan sekadar pelajar. Mereka adalah penjaga masa depan. Mereka adalah penulis bab sejarah selanjutnya. Dan mereka adalah kelompok yang paling mungkin melihat dengan jernih karena mereka belum terikat kepentingan politik atau ekonomi. Oleh sebab itu, gerakan mahasiswa bukan hanya urusan kampus tetapi urusan bangsa.

Indonesia membutuhkan mahasiswa yang berani berpikir jauh. Berani mempertanyakan kampus yang semakin mahal. Berani mempertanyakan industri yang menjadikan mahasiswa tenaga kerja gratis. Berani mempertanyakan pemerintah ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat. Berani mempertanyakan masa depan yang semakin tidak pasti. Dan berani mempertanyakan diri sendiri apakah kita sedang menjadi bagian dari solusi atau justru menjadi bagian dari generasi yang diam.

Jika mahasiswa hari ini menemukan kembali keberanian dan arah, maka gerakan mahasiswa tidak akan pernah mati. Ia hanya sedang menunggu generasi yang tepat untuk menyalakannya kembali. Dan generasi itu mungkin adalah generasi yang sedang membaca tulisan ini.

Komentar

Anonim mengatakan…
gausah fokus ke itu sih, yaa bodoamat juga

Postingan Populer